Oleh : Persi Mahasiswa S1 Kebidanan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Dharmas Indonesia

Di tengah gelombang revolusi industri ke-4 yang didorong oleh kecerdasan buatan,otomatisasi, dan konektivitas global, teknologi telah mengubah wajah dunia kerja secara mendasar.
Pertanyaan apakah teknologi berperan sebagai mitra yang membantu atau sebagai penggganti yang menggantikan peran manusia menjadi perdebatan yang semakin mendesak.
Bagi Sebagian orang, teknologi adalah alat yang meningkatkan kapasitas kerja, sementara yang lain melihatnya sebagai ancaman bagi lapangan kerja.
Sebenarnya, dampak teknologi pada dunia kerja bersifat kompleks dan multidimensi meskipun ada bidang dimana peran manusia tergeser, secara keseluruhan teknologi berfungsi sebagai pengganti yang sepenuhnya menggantikan peran kita.
Teknologi Sebagai Alat yang Membantu Manusia
Salah satu kontribusi terbesar teknologi adalah meningkatkan produtivitas dan efisiensi kerja.
Dalam bidang manufaktur, robot industri bekerja bersamaan dengan pekerja manusia untuk menyelesaikan tugas-tugas berulang dan berat dengan kecepatan dan akurasi yang jauh lebih tinggi.
Misalnya, di pabrik otomotif di indonesia, robot digunakan untuk menyolder komponen kendaraan, mengurangi risiko cidera pada pekerja dan mengurangi kesalahan produksi hingga 80% menurut data beberapa perusahaan.
Di sektor jasa, perangkat lunak menejemen proyek seperti Trello atau Asana membantu tim kerja mengatur tugas, melacak kemajuan , dan berkolaborasi secara efektif meskipun bekerja secara jarak jauh hal ini sangat bermanfaat terutama setelah pendemi COVID-19 yang mengubah pola kerja global.
Selain itu, teknologi membuka peluang kerja baru yang tidak pernah pengembangan aplikasi seluler, analisis data, keamanan siber, dan pemasaran digital telah menciptakan jutaan lapangan kerja diseluruh dunia, termasuk diindonesia.
Banyak pekerja muda di pelembang dan kota-kota lain di Sumatera Selatan kini bekerja sebagai freelancer atau karyawan perusahaan teknologi, memerberikan kontribusi pada ekonomi lokal dan global.
Teknologi juga memungkinkan pekerja untuk mengembangkan keterampilan baru melalui platfrom pembelajaran daring seperti coursera atau ruangguru, sehingga mereka dapat tetap relevan di pasar kerja yang terus berubah.
Tidak kalah pentingnya, teknologi membantu manusia menangani tugas-tugas yang terlalu kompleks atau berbahaya untuk dilakukan secara manual.
Dalam bidang kesehatan, sistem pencitraaan medis seperti MRI dan CT Scan membantu dokter mediagnosis penyakit dengan lebih akurat, sementara kecerdasan buatan digunakan untuk menganalisis data pasien dan mengidentifikasi pola yang mungkin tidak terlihat oleh mata manusia.
Di sektor pertanian, drone digunakan untuk memantau kondisi tanaman dan medistribusikan pupu secara tepat sasaran, meningkatkan hasil panen dan mengurangi penggunaan sumber daya.
Semua hal ini menunjukkan bahwa teknologi bertindak sebagai ekstensi dari kemampuan manusia, bukan sebagai pengganti.
Potensi Teknologi untuk Menggantikan Peran Manusia
Meskipun memiliki manfaat besar, teknologi juga telah menggantikan beberapa pekerjaan, terutama yang bersifat berulang dan bergantung pada aturan yang jelas.
Pekerja kasir di beberapa toko swalayan telah di gantikan oleh mesin self-checkout, operator telepon oleh sistem respons suara otomatis, dan pekerja data enty oleh peragkat lunak pengenalan karakter optic (OCR).
Di indonesia , beberapa bank telah mengurangi jumlah teller manual dengan meningkatkan jumlah mesin ATM dan layanan perbankan daring, yang menyebabkan beberapa pekerja kehilangan sumber penghasilan.
Kekwatiran juga muncul seiring dengan perkembangan kecerdasan buatan yang semakin canggih.
AI dapat sekarang menulis artikel, membuat desain gratis, dan bahkan melakukan tugas-tugas yang sebelumnya dianggap ekslusif bagi manusia, seperti analisis hukum atau konsultasi keuangan dasar.
Beberapa ahli memperkirakan bahwa hingga 87 juta pekerjaaan di seluruh dunia akan digantikan oleh otomatisisasi pada tahun 2025, meskipun angka ini sering diperdebatkan lapangan kerja baru yang akan muncul.
Selain itu ada risiko bahwa teknologi dapat menyebabkan ketergantungan yang berlebihan mengurangi kemampuan manusia untuk berpikir kritis dan menyelesaikan masalah secara mandiri.
Misalnya, pekerja yang terlalu tergantung pada perangkat lunak analisis data mungkin kehilangan kemampuan untuk menginterpretsikan hasil dengan cara yang kreatif atau mempertanyakan asumsi yang mendasari model yang di ganggu.
Kesimpulan
Teknologi bukanlah kekuatan yang netral di dunia kerja—ia memiliki dampak yang signifikan baik dalam hal membantu maupun menggantikan peran manusia.
Namun, penting untuk menyadari bahwa teknologi diciptakan dan dikendalikan oleh manusia, sehingga arah dan dampaknya tergantung pada bagaimana kita memilih untuk menggunakannya.
Alih-alih melihat teknologi sebagai ancaman, kita harus melihatnya sebagai kesempatan untuk meningkatkan keterampilan kita, beradaptasi dengan perubahan, dan fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan kreativitas, empati, berpikir kritis, dan kepekaan emosional—hal-hal yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
Dunia kerja masa depan akan menjadi tempat di mana manusia dan teknologi bekerja sama secara sinergis.
Pekerja yang mampu menggabungkan keterampilan manusia dengan keahlian dalam menggunakan teknologi akan menjadi yang paling kompetitif dan sukses.
Oleh karena itu, tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa perkembangan teknologi diarahkan untuk kesejahteraan bersama, dengan kebijakan yang melindungi pekerja dan memberikan kesempatan bagi semua orang untuk belajar dan tumbuh seiring dengan kemajuan teknologi.