Oleh: Siti Masrofah
Mahasiswa S-1 Kebidanan FIKES UNDHARI

Mahasiswa kebidanan diwajibkan untuk menguasai pengetahuan teoretis, keterampilan teknis sikap profesional dan nilai-nilai etis untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien di lingkungan nyata.

Namun di sisi lain, masyarakat menuntut hadirnya tenaga kesehatan seperti seorang bidan yang memiliki sikap kemanusiaan, adil, bertanggung jawab, beretika, dan berkarakter kuat.

Dalam upaya menghadapi kedua hal ini, lingkungan tempat tinggal mahasiswa selama masa pendidikan memegang peranan yang sering kali diremehkan.

Namun sesungguhnya sangat penting dan berpengaruh. Asrama kampus sering kali hanya dianggap sebagai fasilitas semata yang fungsinya sebagai tempat tinggal, namun sebenarnya juga menjadi tempat pembentukan karakter bagi mahasiswa S1 Kebidanan.

Bagi calon bidan, asrama adalah tempat menempa kedewasaan, kedisiplinan, dan empati.

Karakter pertama dan paling mendasar yang dibentuk melalui kehidupan asrama adalah kedisiplinan dan manajemen diri.

Profesi bidan adalah profesi yang tidak mengenal toleransi terhadap kelalaian.

Sebagai contoh jika ada keterlambatan hitungan menit dalam penanganan perdarahan pascapersalinan, tentu akan berakibat fatal.

Asrama kampus menanamkan bibit kedisiplinan ini melalui rutinitas harian yang terstruktur.

Aturan jam malam, jadwal piket kebersihan, antrean mandi, hingga waktu belajar bersama memaksa mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman kemalasan.

Di asrama mahasiswa belajar untuk bangun pagi, merapikan tempat tidur, dan mempersiapkan diri dengan efisien.

Kebiasaan-kebiasaan kecil ini, jika dilakukan secara terus-menerus selama bertahun-tahun, akan menjadikan karakter disiplin yang kokoh.

Seorang mahasiswa yang terbiasa disiplin dengan aturan asrama, kelak tidak akan kesulitan beradaptasi dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat.

Selanjutnya, asrama adalah tempat terbaik untuk menumbuhkan karakter toleransi dan adaptasi sosial.

Indonesia adalah negara majemuk, dan pasien yang akan dihadapi oleh seorang bidan nantinya berasal dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan tingkat ekonomi.

Di asrama, mahasiswa ditempatkan dalam satu atap dengan orang-orang yang sangat beragam. Dan tentunya harus berbagi ruang, berbagi fasilitas, dan berbagi kehidupan dengan orang lain yang mungkin memiliki kebiasaan tidur yang berbeda, selera makan yang berbeda, atau logat bicara yang berbeda.

Masalah atau perdebatan kecil di asrama, seperti perbedaan pendapat mengenai kebersihan kamar atau kebisingan adalah latihan berharga untuk mengelola konflik.

Mahasiswa belajar untuk menekan ego pribadi demi kepentingan bersama dan belajar mendengarkan sudut pandang orang lain.

Kemampuan beradaptasi dengan berbagai karakter manusia di asrama ini adalah modal emas bagi seorang bidan.

Ketika terjun ke masyarakat, bidan yang luwes dan adaptif akan lebih mudah diterima oleh warga desa, lebih mudah membangun kepercayaan pasien, dan lebih tangguh menghadapi perubahan sosial di tempat tugas, terutama di daerah terpencil.

Karakter ketiga yang ditempa di asrama adalah empati dan kepedulian. Inti dari asuhan kebidanan adalah kepedulian.

Empati bukan hanya dipelajari melalui buku teks atau slide presentasi dosen tapi harus dipraktikkan dan dirasakan.

Contoh ketika ada teman asrama yang sakit, mahasiswa lain belajar berempati dengan mengantar ke klinik, merawat di asrama, membelikan obat, atau sekadar mengambilkan makan atau ketika ada teman yang menangis karena ada masalah atau homesick, teman lainnya hadir sebagai pendengar.

Momen-momen sederhana ini melatih kepekaan dan rasa empati. Mahasiswa belajar untuk tidak apatis terhadap penderitaan orang di sekitarnya.

Solidaritas yang terbangun dalam suka dan duka di asrama membentuk rasa persaudaraan yang kuat.

Karakter peduli ini sangat penting bagi seorang bidan yang terbiasa peduli pada teman asramanya, sehingga akan melayani pasiennya dengan baik.

Selain itu, asrama juga membentuk karakter kemandirian dan tanggung jawab. Jauh dari orang tua memaksa mahasiswa untuk menjadi manajer bagi hidupnya sendiri.

Tidak ada lagi ibu yang membangunkan tidur atau menyiapkan sarapan. Mahasiswa harus mengelola keuangannya agar cukup hingga akhir bulan, memutuskan menu makan sehat di tengah godaan jajan sembarangan, dan menjaga kebersihan diri serta lingkungannya.

Kemandirian ini sangat penting karena bidan sering kali harus mengambil keputusan cepat dan mandiri dalam situasi darurat klinis.

Kepercayaan diri untuk mengambil keputusan tersebut berakar dari kemandirian yang dilatih dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa yang mandiri di asrama akan tumbuh menjadi bidan yang tidak cengeng, tangguh, dan siap menghadapi tantangan profesi yang berat.

Kemudian, yang tak kalah penting adalah pembentukan karakter spiritual dan moral.

Asrama kampus yang mengajarkan keagamaan, menjadi benteng moral bagi mahasiswa di tengah pergaulan bebas remaja masa kini.

Kegiatan seperti sholat berjamaah di masjid, yasinan rutin setiap malam jumat, atau sekadar budaya saling mengingatkan dalam kebaikan, menciptakan suasana religius yang kondusif.

Bagi seorang bidan, spiritualitas adalah landasan etika. Keyakinan bahwa menolong persalinan adalah ibadah dan amanah dari Allah akan mencegah bidan dari kelalaian atau hal yang kurang baik lainnya.

Terakhir, asrama membantu terbentuknya budaya kolaborasi dan kerja sama tim. Di dunia medis, pelayanan kesehatan adalah kerja tim.

Di asrama, kolaborasi terjadi setiap hari, mulai dari belajar kelompok untuk menghadapi ujian, gotong royong membersihkan asrama, hingga menyelenggarakan acara kebersamaan.

Mahasiswa belajar bahwa keberhasilan kelompok bergantung pada kontribusi setiap individu serta belajar untuk saling menutupi kekurangan teman dan saling mendukung satu sama lain.

Sehingga kelak, seorang bidan mempunyai kemampuan untuk bekerja sama dengan dokter, perawat, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lain akan menjadi penentu keselamatan pasien.

Kesimpulannya, asrama kampus bagi mahasiswa S1 Kebidanan bukan hanya sebagai tempat tinggal, melainkan juga tempat pembentukan karakter.

Di asrama itulah mahasiswa belajar untuk menurunkan ego, menjadi disiplin, berempati, dan bersikap dewasa.

Mahasiswa yang mampu menyerap nilai-nilai kehidupan asrama akan tumbuh dari remaja lulusan SMA menjadi dewasa muda yang berkarakter matang.

Mereka tidak hanya akan lulus sebagai bidan yang cerdas, tetapi juga bidan yang tangguh secara mental, santun secara sosial, dan luhur secara moral.

Oleh karena itu, adanya asrama kampus untuk mahasiswa S1 kebidanan merupakan strategis untuk melahirkan generasi bidan profesional dan siap mengabdi.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version