Oleh: Sherly Amanda
Mahasiswa S-1 Keperawatan FIKES UNDHARI

Industri permainan video dalam satu dekade terakhir ini telah mengalami transformasi radikal, beralih dari sekadar hobi di ruang tamu menjadi fenomena global yang dapat diakses melalui genggaman tangan.

Di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) telah menjadi pemimpin pasar yang mendominasi kehidupan sehari-hari jutaan orang, dari anak-anak hingga orang dewasa.

Sebagai gim bergenre Multiplayer Online Battle Arena (MOBA), Mobile Legends menawarkan pengalaman kompetitif yang intens dan interaksi sosial yang dinamis.

Namun, di balik kegembiraan tersebut, terdapat dampak signifikan terhadap kesehatan mental para pemainnya.

Dampak ini bersifat kompleks dan multidimensi, mencakup sisi positif sebagai sarana pengembangan diri serta sisi negatif yang berpotensi merusak keseimbangan psikologis.

Secara psikologis, bermain Mobile Legends tidak bisa dipandang hanya sebagai aktivitas membuang waktu. Gim ini menuntut fungsi kognitif tingkat tinggi.

Setiap pertandingan mengharuskan pemain untuk melakukan analisis situasi secara real-time, menyusun strategi tim, dan mengambil keputusan cepat di bawah tekanan.

Proses ini dapat merangsang plastisitas otak, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah (problem solving), dan melatih konsentrasi.

Bagi seorang individu, keberhasilan dalam menembus tingkatan rank yang sulit memberikan kepuasan batin atau sense of achievement.

Dalam psikologi positif, pencapaian ini dapat meningkatkan harga diri (self-esteem) dan memberikan rasa kompetensi yang mungkin sulit didapatkan dalam kehidupan nyata.

Selain itu, Mobile Legends berperan sebagai platform sosialisasi digital. Di era di mana interaksi fisik kadang terbatas, gim ini menjadi jembatan untuk membangun komunitas.

Kerja sama tim yang solid dalam sebuah pertandingan dapat menumbuhkan rasa empati dan solidaritas antar pemain.

Bagi banyak orang, bermain bersama teman atau “mabar” adalah bentuk dukungan sosial yang efektif untuk melepaskan penat setelah seharian bekerja atau belajar.

Dalam konteks ini, gim berfungsi sebagai alat rekreasi yang mampu menurunkan tingkat stres dan memberikan hiburan yang murah serta mudah diakses.

Mobile Legends juga berperan sebagai stimulasi kognitif yang bermanfaat. Dalam permainan ini, pemain dituntut untuk berpikir strategis dan cepat dalam mengambil keputusan.

Setiap pertandingan memerlukan analisis situasi, pemilihan hero yang tepat, dan penentuan taktik yang sesuai untuk mengalahkan lawan.

Keterampilan ini tidak hanya berguna dalam konteks permainan, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

Tak kalah penting, Mobile Legends juga berfungsi sebagai penghilang stres.

Di tengah dunia yang penuh tekanan, banyak orang mencari cara untuk bersantai dan melepaskan ketegangan.

Game ini menawarkan pelarian yang menyenangkan, di mana pemain dapat terlibat dalam pertempuran yang seru dan merasakan kepuasan saat meraih kemenangan.

Momen-momen kecil seperti mendapatkan kill atau memenangkan pertandingan dapat memberikan rasa pencapaian yang meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres.

Namun, sifat kompetitif yang menjadi jantung dari Mobile Legends juga menjadi sumber utama masalah mental.

Salah satu dampak yang paling nyata adalah peningkatan perilaku agresif. Dalam lingkungan MLBB, sering terjadi fenomena “toxic behavior” atau perilaku toksik, di mana pemain saling menghina, menyalahkan, atau merendahkan melalui fitur chat atau suara.

Paparan terus-menerus terhadap lingkungan yang penuh kebencian ini dapat meningkatkan tingkat kortisol (hormon stres) dan memicu kemarahan yang meluap-luap atau “rage”.

Bagi individu yang belum memiliki kematangan emosional, kegagalan dalam pertandingan sering kali dianggap sebagai ancaman personal.

Kekalahan beruntun (lose streak) dapat menyebabkan frustrasi mendalam, kecemasan, dan dalam beberapa kasus, merusak suasana hati (mood) selama berhari-hari.

Perilaku ini jika tidak dikontrol dapat terbawa ke dunia nyata, di mana pemain menjadi lebih impulsif, mudah marah pada orang di sekitar, dan sulit mengendalikan emosi ketika menghadapi konflik kecil.

Dampak yang paling mengkhawatirkan terhadap kesehatan mental adalah risiko kecanduan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan Gaming Disorder sebagai salah satu gangguan mental.

Mobile Legends didesain dengan sistem reward (penghargaan) yang memicu pelepasan dopamin dalam otak, menciptakan siklus di mana pemain merasa perlu untuk terus bermain demi mendapatkan kepuasan yang sama.

Ketika seseorang sudah masuk dalam tahap kecanduan, prioritas hidupnya akan bergeser. Kewajiban sosial, pendidikan, dan pekerjaan mulai terabaikan.

Hal ini menciptakan lingkaran setan: pemain merasa gagal di dunia nyata, lalu melarikan diri ke dunia game untuk mencari validasi, yang kemudian membuat kehidupan nyatanya semakin berantakan.

Kondisi ini adalah cikal bakal terjadinya depresi dan kecemasan sosial.

Pemain yang kecanduan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial fisik, yang pada akhirnya memperburuk rasa kesepian dan keterasingan. Kesehatan mental tidak dapat dipisahkan dari kesehatan fisik.

Mobile Legends sering kali dimainkan hingga larut malam karena adanya dorongan untuk memperbaiki rank atau sekadar rasa penasaran untuk terus menang.

Ketika seorang pemain menghabiskan berjam-jam di depan layar, tubuhnya kehilangan kesempatan untuk bergerak secara aktif.

Posisi duduk yang tidak ergonomis dapat menimbulkan nyeri pada punggung dan leher, sementara minimnya aktivitas fisik berpotensi menyebabkan penambahan berat badan.

Jika kebiasaan ini terus berlanjut, risiko obesitas pun semakin meningkat, yang merupakan persoalan kesehatan yang serius.

Selain itu, paparan layar yang berlebihan, terutama menjelang waktu tidur, dapat mengganggu pola tidur dan menyebabkan insomnia, yang pada akhirnya mengurangi kualitas istirahat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, kurang tidur secara kronis memiliki dampak destruktif bagi kesehatan mental.

Otak yang tidak mendapatkan istirahat cukup akan kesulitan memproses emosi dengan benar.

Hal ini menyebabkan kabut otak (brain fog), penurunan daya ingat, dan peningkatan risiko gangguan panik.

Kelelahan mental yang disebabkan oleh kurang tidur dan durasi bermain yang berlebihan membuat seseorang kehilangan semangat untuk menjalani hobi lain, yang secara bertahap mengikis kualitas hidup secara keseluruhan.

Sebagai kesimpulan, Mobile Legends adalah fenomena budaya yang memiliki pengaruh ganda terhadap kesehatan mental. Di satu sisi, ia menawarkan stimulasi kognitif dan kepuasan sosial yang positif.

Namun di sisi lain, ia menyimpan risiko agresivitas, kecanduan, dan gangguan emosional yang serius jika dimainkan tanpa kendali diri. Penting bagi para pemain, orang tua, dan masyarakat untuk memahami bahwa kunci utama terletak pada moderasi.

Gim seharusnya tetap menjadi sarana hiburan, bukan pusat dari kehidupan seseorang. Kesadaran diri (self-awareness) untuk mengetahui kapan harus berhenti, menjaga etika dalam berkomunikasi secara digital, serta tetap memprioritaskan aktivitas di dunia nyata adalah langkah-langkah krusial untuk mencegah dampak negatif MLBB terhadap kesehatan mental.

Pada akhirnya, kesehatan mental adalah aset paling berharga yang tidak boleh dikorbankan demi mengejar kemenangan di dunia virtual.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version