Oleh: Resza Wulandari Mahasiswa Prodi S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI

Mahasiswa Prodi S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia
FKIP UNDHARI
Laut selalu hadir sebagai hamparan biru yang menenangkan mata dan jiwa. Debur ombaknya menjadi musik alam yang menyejukkan, sementara cakrawala yang menyatu dengan langit menghadirkan kesan kebebasan tanpa batas.
Bagi banyak orang, laut adalah simbol keindahan, ketenangan, dan tempat pelarian dari hiruk-pikuk kehidupan. Namun, di balik keindahan biru yang kita kagumi, laut menyimpan kesedihan yang kerap luput dari perhatian manusia.Lautan, yang mencakup lebih dari 70% permukaan bumi, adalah sumber kehidupan dan keajaiban.
Birunya yang pekat memikat mata, dan kedalamannya menjanjikan misteri yang tak terhitung jumlahnya.Di bawah permukaan yang beriak lembut, terdapat dunia yang berdenyut dengan keanekaragaman hayati yang menakjubkan—terumbu karang yang berwarna-warni, kawanan ikan yang bergerak serempak, dan mamalia raksasa yang melintasi samudra.
Ini adalah gambaran dari surga alami, sebuah sumber inspirasi abadi bagi para penyair, seniman, dan ilmuwan. Namun, pesona ini hannyalah selubung tipis. Kesedihan laut terletak pada kemampuannya menyerap konsekuensi dari gaya hidup kita yang tidak berkelanjutan.
Banyak hal yang manusia lakukan hanya memikirkan diri nya sendiri dan kepentingan pribadinya. Tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi dari tindakan nya. Peningkatan industrialisasi dan konsumsi global telah mengubah lautan menjadi tempat pembuangan sampah raksasa.
Hal yang di anggap kecil pagi manusia adalah dampak yang begitu besar bagi alam kita. Sampah yang sering kali kita anggap kecil bahkan itu sampah bungkus permen juga memiliki dampak yang begitu besar.
Penguraian plastik itu sungguh membutuhkan waktu yang begitu lama. Sedangkan sampah itu terus bertambah setiap saat akibat ulah manusia yang acuh tak acuh terhadap hal kecil.
Sehingga akibatnya berdampak kepada hewan-hewan dan juga tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar lingkungan kita.Kesedihan laut bermula dari ulah manusia yang memandangnya hanya sebagai objek eksploitasi.
Setiap tahun, jutaan ton sampah plastik memasuki lautan, membentuk “pulau” sampah dan menjerat atau dicerna oleh kehidupan laut, menyebabkan kematian massal dan kerusakan ekosistem yang tak dapat diperbaiki.
Sampah plastik, limbah industri, dan sisa aktivitas rumah tangga terus mengalir ke perairan tanpa rasa bersalah. Kantong plastik, botol bekas, dan jaring nelayan yang terbuang berubah menjadi ancaman mematikan bagi biota laut.
Penyu, ikan, dan burung laut sering kali terperangkap atau mengira sampah sebagai makanan, hingga akhirnya kehilangan nyawa. Biru laut yang tampak bersih di permukaan sejatinya menutupi luka yang menganga di kedalamannya.
Tidak hanya pencemaran, kesedihan laut juga terwujud dalam rusaknya ekosistem alami. Terumbu karang yang seharusnya menjadi rumah bagi ribuan spesies perlahan memutih akibat pemanasan global dan aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab.
Lautan menyerap sebagian besar panas berlebih dari atmosfer dan karbon dioksida. Akibatnya, suhu air meningkat, menyebabkan pemutihan karang secara meluas—seperti yang terlihat di Great Barrier Reef Foundation—dan mengancam seluruh ekosistem terumbu karang yang vital.
Penangkapan ikan secara berlebihan dan penggunaan alat tangkap yang merusak semakin memperparah keadaan.
Eksploitasi sumber daya ikan secara berlebihan menyebabkan penipisan stok ikan yang mengkhawatirkan dan mengganggu keseimbangan ekologis, merampas kemampuan laut untuk pulih secara alami.
Laut yang dahulu kaya dan penuh kehidupan kini terpaksa menanggung penderitaan akibat keserakahan manusia. Lautan biru yang kita nikmati saat liburan adalah cermin dari krisis eksistensial.
Keindahannya tetap ada, tetapi itu adalah keindahan yang terluka. Di balik setiap ombak yang memecah di pantai, ada beban limbah, panas, dan keputusasaan ekologis.
Ironisnya, manusia sering kali lupa bahwa laut bukan hanya sumber keindahan, tetapi juga penopang kehidupan. Laut menyediakan oksigen, menjadi sumber pangan, serta mengatur iklim dunia.
Ketika laut terluka, sesungguhnya manusia sedang menggali kesedihan bagi dirinya sendiri. Bencana alam, menurunnya hasil tangkapan nelayan, dan perubahan iklim ekstrem adalah sebagian kecil dari dampak yang harus kita hadapi akibat mengabaikan jeritan laut.
Untuk mengobati kesedihan laut, diperlukan tindakan kolektif segera. Konservasi, pengurangan jejak karbon, manajemen limbah yang lebih baik, dan dukungan terhadap area perlindungan laut yang efektif sangat penting.
Hanya dengan mengakui kesedihan di balik biru yang memesona, kita dapat mulai menyembuhkan samudra yang telah memberi kita begitu banyak kehidupan dan keajaiban.
Lautan kita membutuhkan suara kita, agar keindahannya tidak hanya menjadi kenangan pahit di masa depan. Oleh karena itu, sudah saatnya manusia berhenti memandang laut sebagai ruang tanpa batas yang dapat diperlakukan semaunya.
Menjaga kebersihan pantai, mengurangi penggunaan plastik, serta mendukung upaya pelestarian lingkungan laut merupakan langkah kecil yang memiliki arti besar.
Dengan kepedulian dan tanggung jawab bersama, kita dapat mengembalikan senyum laut yang selama ini tertutupi oleh kesedihan. Pada akhirnya, biru laut yang indah bukan sekadar pemandangan untuk dinikmati, melainkan amanah yang harus dijaga.
Jika kita mampu mendengarkan kesedihan yang ia rasakan, maka laut akan kembali bernyanyi dengan riang, menghadirkan keindahan yang sejati bagi generasi hari ini dan masa depan.