Oleh: Oktianda
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI

Era digital telah membuka pintu kemudahan akses informasi yang tak tertandingi, di mana pengetahuan dari seluruh dunia dapat dijangkau hanya dengan sentuhan jari. Namun, kemudahan ini juga menimbulkan tantangan serius: banyak individu semakin kesulitan memilah informasi yang akurat, objektif, dan terpercaya dari yang salah, menyesatkan, atau berbahaya. Fenomena ini mencerminkan erosi literasi kritis yang signifikan kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menilai informasi dengan cermat yang menjadi masalah krusial di masyarakat saat ini. Oleh karena itu, esai ini akan membahas alasan utama mengapa kemampuan memilah informasi semakin melemah di era digital, yaitu information overload, pengaruh algoritma platform, budaya digital yang mengutamakan kecepatan, peran emosi, dan fenomena ikut-ikutan digital.
Salah satu penyebab paling mendasar erosi literasi kritis adalah kondisi information overload atau kelebihan informasi. Setiap hari, jutaan konten baru diposting di media sosial, situs berita, blog, dan platform digital lainnya. Menurut studi Lembaga Penelitian Komunikasi Global tahun 2024, jumlah informasi yang tersedia online meningkat sebesar 40% setiap tahunnya angka yang jauh melampaui kapasitas otak manusia untuk memproses dengan mendalam. Kondisi ini menyebabkan kelelahan informasi, di mana individu merasa terbebani dan cenderung mengambil informasi secara cepat tanpa memverifikasi kebenarannya. Alih-alih membaca konten secara menyeluruh atau memeriksa kredibilitas sumbernya, banyak orang hanya melihat judul, gambar, atau ringkasan singkat. Akhirnya, ini melemahkan kemampuan mereka untuk memilah informasi yang penting dan akurat dari yang tidak relevan atau salah.
Selain information overload, pengaruh algoritma pada platform digital juga berkontribusi besar pada erosi literasi kritis. Algoritma dirancang untuk menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi, riwayat interaksi, dan minat pengguna, dengan tujuan meningkatkan keterlibatan dan waktu yang dihabiskan di platform. Misalnya, algoritma Facebook, Instagram, dan TikTok cenderung menampilkan postingan dari teman, halaman, atau akun yang sering diikuti, serta konten yang mirip dengan yang pernah dilihat sebelumnya. Fenomena “gelembung filter” (filter bubble) ini membuat pengguna hanya terpapar pada informasi yang mengkonfirmasi keyakinan dan pandangan mereka sendiri, sedangkan perspektif yang berbeda atau bertentangan jarang muncul. Akibatnya, pengguna kurang dilatih untuk membandingkan berbagai sumber informasi atau berpikir kritis terhadap apa yang mereka baca, sehingga kemampuan memilah informasi semakin melemah.
Budaya digital yang mengutamakan kecepatan dan viralitas juga menjadi faktor penting yang memperburuk masalah ini. Di era sekarang, konten yang dapat menyebar cepat dan menarik perhatian dalam sekejap seringkali lebih diutamakan daripada konten yang akurat, mendalam, atau objektif. Banyak platform mendorong pengguna untuk membuat konten yang singkat, sensasional, atau emosional agar lebih mudah viral. Misalnya, video pendek di TikTok tentang “rahasia kesehatan” atau “berita terkini” yang menggemparkan seringkali viral dalam hitungan jam, meskipun tidak memiliki sumber yang terpercaya atau bukti yang kuat. Budaya ini membuat orang lebih cenderung mempercayai konten yang populer atau banyak dibagikan, bukan konten yang telah diverifikasi secara cermat. Hal ini membuat kemampuan memilah informasi menjadi lemah, karena orang lebih fokus pada popularitas daripada keakuratan.
Peran emosi dalam memproses informasi juga tidak bisa diabaikan dalam erosi literasi kritis. Ketika seseorang merasa emosional misalnya marah, takut, senang, atau bersedih otak mereka cenderung mengandalkan bagian yang lebih cepat merespons tetapi kurang rasional (bagian limbik) daripada bagian yang bertanggung jawab untuk berpikir kritis (korteks prefrontal). Emosi membuat orang lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan perasaan mereka, sedangkan informasi yang bertentangan seringkali ditolak tanpa dipikirkan lagi. Misalnya, seseorang yang takut akan wabah penyakit lebih mudah percaya pada berita palsu tentang “obat ajaib” yang beredar, tanpa memeriksa kebenarannya atau berkonsultasi dengan dokter. Emosi membuat orang sulit berpikir objektif, sehingga kemampuan mereka untuk memilah informasi yang benar dari yang salah menjadi semakin lemah.
Terakhir, fenomena “ikut-ikutan digital” juga memperburuk erosi literasi kritis. Di media sosial, orang seringkali membagikan atau mempercayai konten hanya karena telah dibagikan oleh teman, keluarga, atau orang yang diidolakan, tanpa memverifikasi sumbernya atau kebenarannya. Kepercayaan pada orang terdekat membuat orang melupakan untuk berpikir kritis dan memeriksa informasi secara mandiri. Akibatnya, hoaks, disinformasi, dan informasi salah menyebar dengan cepat di antara komunitas, membuat lebih banyak orang terpapar dan mempercayainya. Hal ini membuat kemampuan memilah informasi menjadi semakin sulit, karena orang lebih tergantung pada pendapat orang lain daripada pada analisis diri mereka sendiri.
Secara keseluruhan, erosi literasi kritis di era digital adalah masalah yang kompleks yang disebabkan oleh berbagai faktor yang saling terkait. Mulai dari information overload dan pengaruh algoritma, hingga budaya digital, peran emosi, dan ikut-ikutan digital semua ini berkontribusi pada melemahnya kemampuan memilah informasi. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya bersama dari semua pihak: sekolah harus mengajarkan literasi media dan keterampilan berpikir kritis sejak dini, platform digital harus mengubah algoritma agar lebih beragam dan transparan, serta individu harus rajin memeriksa sumber informasi dan berpikir kritis sebelum mempercayainya. Hanya dengan demikian, kita dapat membangun masyarakat yang lebih cerdas dan kritis, sehingga tidak terjebak oleh informasi yang salah dan dapat membuat keputusan yang berdasarkan fakta di era digital ini.