Oleh: Tiva Aulia Mahasiswa Prodi S-1 Kebidanan FIKES Universitas Dharmas Indonesia

Tiva Aulia Mahasiswa Prodi S-1 Kebidanan FIKES
Universitas Dharmas Indonesia

Perkembangan teknologi digital di Indonesia berlangsung dengan kecepatan luar biasa dan mempengaruhi hampir semua bidang kehidupan, termasuk dalam sektor pendidikan tinggi.

Mahasiswa sebagai kelompok yang aktif secara produktif menjadi pengguna terbesar internet dan platform media sosial di Indonesia.

Dalam aktivitas sehari-hari, media sosial tidak hanya berperan sebagai sumber hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai saluran komunikasi, sumber informasi, dan tempat untuk mengekspresikan diri.

Namun, di balik keuntungan itu, media sosial juga menghadirkan tantangan signifikan dalam proses pembelajaran mahasiswa, terutama sebagai sumber gangguan yang sukar untuk diatasi.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi penggunaan media sosial yang sangat tinggi di dunia.

Mahasiswa menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya untuk mengakses berbagai platform seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, dan YouTube. Tingginya tingkat penggunaan tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap kebiasaan belajar mereka.

Banyak mahasiswa mengakui bahwa mereka sering membuka media sosial saat sedang belajar, baik secara sadar maupun tidak. Situasi ini mengindikasikan bahwa media sosial telah berintegrasi dalam kegiatan belajar yang sering kali mengganggu fokus dan perhatian.

Distraksi yang ditimbulkan oleh media sosial saat belajar dapat dilihat dari berkurangnya kemampuan siswa untuk menjaga perhatian dalam durasi yang lama. Proses pembelajaran seharusnya memerlukan perhatian penuh agar materi bisa dipahami dengan baik.

Namun, adanya notifikasi dari pesan, video pendek, dan konten hiburan yang terus muncul membuat siswa mudah kehilangan fokus.

Dalam hal ini, waktu belajar menjadi tidak efisien karena siswa perlu waktu lebih banyak untuk kembali berkonsentrasi setelah terdistraksi oleh media sosial.

Fakta yang ada menunjukkan bahwa sejumlah mahasiswa di Indonesia menghadapi masalah dalam manajemen waktu belajar karena terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial.

Saatnya yang seharusnya dipakai untuk membaca materi, menyelesaikan tugas, atau menyiapkan ujian sering kali terganggu oleh kegiatan menggulir media sosial.

Ini mengakibatkan tugas akademik diselesaikan menjelang batas waktu dengan kualitas yang tidak ideal.

Kebiasaan belajar seperti ini tidak hanya berpengaruh pada prestasi akademik, tetapi juga menciptakan pola belajar yang tidak disiplin. Selain mengganggu pengelolaan waktu, media sosial juga memicu kebiasaan multitasking yang salah.

Sejumlah mahasiswa percaya bahwa mereka dapat belajar sambil mengecek media sosial. Namun, berpindah-pindah fokus antara materi kuliah dan konten media sosial mengakibatkan proses pembelajaran jadi dangkal.

Informasi yang diterima tidak diolah dengan optimal, sehingga pemahaman terhadap bahan ajar menjadi minim.

Situasi ini sering terlihat pada mahasiswa yang belajar seraya menonton video pendek atau merespons pesan pada saat yang bersamaan.

Di Indonesia, pengaruh media sosial juga terhubung dengan beban sosial dan emosional. Platform-platform sosial sering kali menunjukkan kehidupan orang lain yang terkesan lebih menarik atau lebih berhasil.

Melihat konten seperti ini dapat menyebabkan kecemasan, rasa kurang percaya diri, bahkan tekanan emosional pada mahasiswa.

Keadaan emosional yang tidak seimbang jelas berdampak pada semangat dan motivasi belajar. Mahasiswa yang kerap terlibat dalam dunia media sosial biasanya lebih rentan terhadap kehilangan konsentrasi dan mengalami kelelahan mental.

Namun, pengaruh media sosial tidak sepenuhnya merugikan bagi bidang pendidikan. Di sejumlah universitas di Indonesia, media sosial mulai dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran.

Mahasiswa memanfaatkan grup WhatsApp atau Telegram untuk berdiskusi, bertukar materi perkuliahan, dan berkolaborasi dalam proyek kelompok. Selain itu, platform seperti YouTube dan Instagram juga digunakan untuk mengakses konten pendidikan yang memperkuat pemahaman terhadap materi kuliah.

Permasalahan utama timbul ketika batasan antara kepentingan pendidikan dan kesenangan dalam penggunaan media sosial tidak ditetapkan dengan jelas. Banyak siswa yang belum mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan diri dengan baik saat berinteraksi di media sosial.

Sebagai akibatnya, tujuan awal yang fokus pada pembelajaran sering kali berubah menjadi kegiatan hiburan yang berkepanjangan. Fenomena ini menekankan pentingnya kemampuan untuk mengatur diri sendiri dalam menghadapi tantangan digital dalam konteks pendidikan.

Dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia, dosen dan lembaga memiliki fungsi yang krusial dalam mendukung mahasiswa untuk mengatur pemakaian media sosial. Metode yang bersifat larangan total umumnya tidak berhasil, mengingat media sosial sudah melekat dalam kehidupan mahasiswa.

Cara yang lebih praktis adalah dengan menyampaikan pendidikan tentang literasi digital dan menggabungkan media sosial ke dalam proses belajar secara terstruktur. Dengan cara ini, mahasiswa dapat belajar menggunakan media sosial secara efisien tanpa terjebak dalam gangguan yang merugikan.

Mahasiswa juga memiliki peran utama dalam mengatasi distraksi media sosial. Beberapa langkah sederhana seperti mematikan notifikasi saat belajar, menentukan waktu khusus untuk mengakses media sosial, serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dapat membantu meningkatkan fokus belajar.

Kebiasaan ini, jika dilakukan secara konsisten, terbukti mampu meningkatkan kualitas belajar dan kemandirian mahasiswa. Secara keseluruhan, media sosial merupakan fenomena yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mahasiswa di Indonesia.

Media sosial memiliki potensi besar untuk mendukung proses belajar, tetapi juga berpotensi menjadi distraksi yang menghambat jika tidak dikelola dengan baik.

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran, pengendalian diri, serta dukungan dari lingkungan akademik agar media sosial dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung keberhasilan belajar mahasiswa, bukan sebaliknya.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version