Close Menu
galanggang.id

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Pramuka Peduli Terjun Langsung Bantu Warga Terdampak Banjir di Merangin

    1 Mei 2026

    Menutup Program Studi, Menerka Arah Baru Pembangunan dan Pendidikan Indonesia

    1 Mei 2026

    57 Kafilah Wakili Sumbar dalam MTQ Nasional XXXI Semarang

    30 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Trending
    • Pramuka Peduli Terjun Langsung Bantu Warga Terdampak Banjir di Merangin
    • Menutup Program Studi, Menerka Arah Baru Pembangunan dan Pendidikan Indonesia
    • 57 Kafilah Wakili Sumbar dalam MTQ Nasional XXXI Semarang
    • Annisa Suci Ramadhani Dorong Percepatan Distribusi SPPT PBB-P2 2026
    • Bupati Dharmasraya Apresiasi Alek Nagari Tebing Tinggi sebagai Penjaga Identitas
    • Lantik Pengurus Dekranasda 2025–2030, Bupati Annisa Dorong UMKM Dharmasraya Naik Kelas
    • Gelar School Champion Festival, SMPN 1 Koto Besar Buru Bibit Juara se-Kecamatan
    • Terima Kunjungan DPR RI, Bupati Tebo Kejar Percepatan Jalan Nasional dan Provinsi
    Facebook X (Twitter) Instagram
    galanggang.id
    Subscribe
    Jumat, Mei 1
    • Home
    • Nasional
    • Daerah
    • Politik

      Fraksi PKB Sampaikan Enam Poin Pandangan atas Nota Penjelasan Bupati terkait Ranperda APBD Dharmasraya 2026

      20 November 2025

      Kinerja Cindy Monica Berbuah Manis, Renovasi Bendungan Lubuk Sikoci Jadi Angin Segar Bagi Petani Ikan

      19 September 2025

      Akademisi Dodi Widia Nanda Meminta Bupati dan DPRD Meninjau Kembali Perda CSR Dharmasraya

      12 September 2025

      Labeli Pemberitaan “Disinformasi”, Pemkab Dharmasraya Dikritik Mantan Direktur LBH Pers

      7 September 2025

      DPRD Dharmasraya Bantah Tuduhan Pembahasan APBD Tak Sesuai Aturan, Sebut Hanya Masalah Teknis Komunikasi

      27 Agustus 2025
    • Hukum Kriminal
    • Olahraga
    • Budaya
      • Pendidikan
      • Sastra
      • Wisata
    • Opini
    • Kesehatan
    • Viral
    galanggang.id
    Beranda » Menutup Program Studi, Menerka Arah Baru Pembangunan dan Pendidikan Indonesia
    Opini

    Menutup Program Studi, Menerka Arah Baru Pembangunan dan Pendidikan Indonesia

    redaksi galanggangBy redaksi galanggang1 Mei 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter WhatsApp Threads Copy Link

    OPINI oleh Muhammad Fauzi (Jurnalis Harian Haluan dan Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas)

    Penulis/Dokumentasi Pribadi

    WACANA PENUTUPAN ratusan program studi di Indonesia belakangan ini memantik perdebatan yang tidak sederhana. Di satu sisi, langkah ini dipandang sebagai upaya pembenahan sistem pendidikan tinggi agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Namun di sisi lain, rencana ini juga memunculkan kegelisahan dan pertanyaan di benak publik.

    Apakah negara sedang mempersempit akses pendidikan, atau justru sedang menata ulang masa depan pembangunan?

    Beberapa waktu lalu, Sekretaris Jendral Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengungkapkan bahwa banyak program studi tidak lagi layak dipertahankan. Program studi yang minim peminat, kualitas rendah, serta tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja harus dipangkas

    Pernyataan pejabat tinggi Kemendiktisaintek ini tentu tidak lahir dari ruang hampa. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun menunjukkan tingkat pendidikan tenaga kerja Indonesia hingga bulan November 2025 masih didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar (SD) kebawah. Presentasenya bahkan mencapai angka 34,63 persen.

    Sementara pekerja dengan pendidikan tinggi (Diploma IV, S1, S2 dan S3) presentasenya hanya 10,81 persen dari total jumlah penduduk yang bekerja. Komposisi ini menjadi sebuah ironi. Lebih dari sepertiga angkatan kerja Indonesia justru memiliki tingkat pendidikan formal yang rendah.

    Berdasarkan data terbaru, jumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di seluruh tanah air mencapai lebih dari 3.100 sampai 4.000 an. Secara matematis, apabila total mahasiswa aktif berjumlah 8 sampai 9 juta orang dan rata-rata lama studi untuk jenjang Sarjana 4 tahun dan jenjang Diploma 3 tahun, maka jumlah lulusan setiap tahunnya berkisar di angka 1,5 juta hingga 2,5 juta orang.

    Angka ini mencerminkan terjadinya ekspansi besar-besaran akses pendidikan dalam dua dekade terakhir. Namun, di saat yang sama, data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 7 juta penduduk Indonesia masih menganggur, dan sekitar 1 juta di antaranya justru merupakan lulusan perguruan tinggi.

    Deretan angka-angka ini menjadi indikasi nyata. Persoalan utama bukan lagi pada kurangnya akses pendidikan, melainkan pada ketidaksesuaian antara apa yang diajarkan di kampus dan apa yang dibutuhkan di dunia kerja.

    Perguruan tinggi terus memproduksi lulusan dalam jumlah besar, tetapi pasar kerja Indonesia nyatanya tidak berkembang dengan kecepatan dan struktur yang sepadan. Akibatnya, gelar akademik yang semestinya menjadi tiket mobilitas sosial justru kehilangan daya tawar karena kuantitas yang sudah semakin melimpah.

    Dalam konteks pembangunan, pendidikan memang tidak boleh berjalan tanpa arah. Ia harus selaras dengan kebutuhan ekonomi, industri, dan transformasi nasional. Namun, perlu juga diingat bahwa perndidikan tinggi tidak boleh dipandang sebagai pabrik penghasil tenaga kerja saja.

    Ia juga menjadi ruang pembentukan nalar kritis, pengembangan ilmu pengetahuan, serta penjaga nilai-nilai sosial dan budaya. Ketika program studi ditutup dengan logika semata-mata “relevansi pasar”, muncul kekhawatiran bahwa negara sedang mereduksi makna pendidikan menjadi sekadar instrumen ekonomi.

    Pada titik ini, kebijakan penutupan program studi sebenarnya membuka pertanyaan yang lebih besar: ke mana arah pembangunan Indonesia hendak dibawa?

    Jika negara hanya berfokus pada sektor-sektor yang dianggap produktif secara ekonomi seperti industri, teknologi, dan hilirisasi sumber daya alam, maka risiko yang muncul adalah terpinggirkannya bidang-bidang ilmu yang tidak langsung menghasilkan keuntungan finansial, tetapi penting bagi peradaban bangsa. Ilmu sosial humaniora misalnya.

    Wacana yang digulirkan pejabat di Kementrian itu pun, juga menjadi indikasi adanya pergeseran paradigma pembangunan. Dari sebelumnya berorientasi pada ekspansi membuka sebanyak mungkin akses Pendidikan, kini malah berorientasi kepada sebanyak apa lulusan bisa diserap tenaga kerja.

    Pergeseran ini pun pada dasarnya tidak keliru. Negara memang perlu memastikan bahwa setiap investasi di sektor pendidikan memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, perubahan arah ini menuntut satu hal yang sering diabaikan. Yaitu komunikasi yang jernih dan partisipatif.

    Dalam perspektif komunikasi pembangunan, kebijakan publik bukan hanya soal apa yang diputuskan, tetapi bagaimana keputusan itu dipahami. Teori difusi inovasi yang dikemukakan Everett M. Rogers mengingatkan bahwa setiap perubahan membutuhkan proses penerimaan bertahap. Tanpa komunikasi yang terbuka dan dialogis, kebijakan akan terasa sebagai pemaksaan, bukan sebagai kebutuhan bersama.

    Pemerintah sepertinya masih terjebak dalam pola komunikasi satu arah, menyampaikan keputusan tanpa cukup membuka ruang diskusi. Padahal, dalam isu sebesar ini, publik tidak hanya membutuhkan data, tetapi juga narasi yang meyakinkan.

    Mengapa program studi tertentu harus ditutup? Apa jaminan bagi mahasiswa yang terdampak? Bagaimana arah Pendidikan dan pembangunan Indonesia ke depannya? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu tidak bisa dijawab dengan pernyataan normatif semata.

    Meski demikian, publik juga perlu bersikap reflektif. Selama ini, memang ada kecenderungan melihat pendidikan tinggi hanya sebagai alat merubah Nasib atau mobilitas sosial, bukan sebagai alat strategis.

    Banyak program studi dipilih tanpa mempertimbangkan relevansi masa depan, yang pada akhirnya melahirkan ketimpangan antara lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Dalam konteks ini, kebijakan pemerintah bisa dibaca sebagai upaya koreksi terhadap sistem yang sudah lama berjalan tanpa evaluasi serius.

    Oleh karena itu, wacana penutupan program studi yang hari ini digulirkan pemerintah tidak bisa dibaca hanya senagai kebijakan pendidikan. Ia adalah cerminan dari arah baru pembangunan Indonesia yang lebih selektif, lebih terarah, tetapi juga berisiko jika tidak dikelola dengan bijak.

    Pertanyaannya bukan lagi apakah kebijakan ini tepat atau tidak, melainkan apakah negara mampu menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab sosial pendidikan.

    Jika pembangunan hanya diukur dari efisiensi dan produktivitas, maka pendidikan akan kehilangan rohnya. Sebaliknya, jika pendidikan dibiarkan berjalan tanpa arah, maka pembangunan akan kehilangan pijakan. Sekarang, diantara dua kutub itulah Indonesia kini berada. (*)

    Opini Program Studi
    Share. Facebook Twitter Email WhatsApp Copy Link
    redaksi galanggang

    Related Posts

    Gelar School Champion Festival, SMPN 1 Koto Besar Buru Bibit Juara se-Kecamatan

    28 April 2026

    Gus Ipul Pastikan Pembelajaran SRMA 32 Lampung Selatan Tetap Optimal Meski di Gedung Sementara

    26 April 2026

    SMK Startup Dara Jingga Antar Lulusan Menuju Dunia Kerja dan Pendidikan Lanjutan

    20 April 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Top Posts

    Mantan Ketua Himatedha dan Presma BEM KM Nyatakan SikapDukung Paslon Nomor Urut 2, Gibran-Fiona

    11 Desember 20251,450 Views

    Tambang Emas Ilegal Menjamur di Koto Balai Dharmasraya, Masyarakat Berharap APH Turun Tangan

    4 Agustus 2025371 Views

    Liga IPPGM ke-XIV Segera Bergulir, Bursa Transfer Pemain Bintang Panas!

    29 Juli 2025205 Views

    Erosi Literasi Kritis Di Era Digital: Mengapa Kemampuan Memilah Informasi Semakin Melemah?

    30 Desember 2025204 Views
    Don't Miss

    Pramuka Peduli Terjun Langsung Bantu Warga Terdampak Banjir di Merangin

    By redaksi galanggang1 Mei 20260

    Merangin, galanggang.id- Banjir yang melanda sejumlah Desa di Kabupaten Merangin pada Minggu (26/4/2026) menyisakan duka…

    Menutup Program Studi, Menerka Arah Baru Pembangunan dan Pendidikan Indonesia

    1 Mei 2026

    57 Kafilah Wakili Sumbar dalam MTQ Nasional XXXI Semarang

    30 April 2026

    Annisa Suci Ramadhani Dorong Percepatan Distribusi SPPT PBB-P2 2026

    29 April 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    Don't Miss

    Pramuka Peduli Terjun Langsung Bantu Warga Terdampak Banjir di Merangin

    By redaksi galanggang1 Mei 20260

    Merangin, galanggang.id- Banjir yang melanda sejumlah Desa di Kabupaten Merangin pada Minggu (26/4/2026) menyisakan duka…

    Menutup Program Studi, Menerka Arah Baru Pembangunan dan Pendidikan Indonesia

    1 Mei 2026

    57 Kafilah Wakili Sumbar dalam MTQ Nasional XXXI Semarang

    30 April 2026

    Annisa Suci Ramadhani Dorong Percepatan Distribusi SPPT PBB-P2 2026

    29 April 2026
    Our Picks

    Pramuka Peduli Terjun Langsung Bantu Warga Terdampak Banjir di Merangin

    1 Mei 2026

    Menutup Program Studi, Menerka Arah Baru Pembangunan dan Pendidikan Indonesia

    1 Mei 2026

    57 Kafilah Wakili Sumbar dalam MTQ Nasional XXXI Semarang

    30 April 2026

    Annisa Suci Ramadhani Dorong Percepatan Distribusi SPPT PBB-P2 2026

    29 April 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok WhatsApp Threads
    • Tentang Kami
    • Iklan dan Kerja Sama
    • Pedoman Media Siber
    © 2026 Portal Berita galanggang.id.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.