
Padang, Galanggang.id — Pelaksanaan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Provinsi Sumatera Barat yang digelar di Venue Panjat Tebing UIN Imam Bonjol Padang pada 22–23 Juni 2026 menyisakan catatan.
Sorotan muncul terkait optimalisasi pendampingan bagi kontingen cabang olahraga (cabor) panjat tebing asal Kabupaten Dharmasraya.
Mardi, selaku pelatih sekaligus orang tua dari Rimba Langit Pembawa Berkah atlet panjat tebing yang merupakan siswa kelas VIII SMPN Unggul Dharmasraya mengungkapkan kekecewaannya.
Ia menyebutkan bahwa saat perlombaan dimulai di hari pertama, sang atlet sama sekali belum mendapatkan pendampingan dari tim official.Sesuai jadwal, technical meeting telah dilaksanakan pada 21 Juni 2026, sementara kompetisi resmi panjat tebing dimulai keesokan harinya.
“Pada saat itu Rimba tidak didampingi tim official. Kemudian pada tanggal 23 Juni 2026, saat babak final berlangsung, barulah tim official datang,” ujar Mardi.Mardi sangat menyayangkan kondisi tersebut.
Menurutnya, kehadiran dan pendampingan dari tim official sangat krusial untuk memberikan dukungan moral serta membantu segala kebutuhan logistik dan teknis atlet selama kompetisi berlangsung.
Meski demikian, ia tetap menyampaikan apresiasinya kepada pihak instansi pendidikan yang telah memfasilitasi anaknya.
“Namun begitu, saya sangat berterimakasih kepada pihak Sekolah SMPN Unggul Dharmasraya yang sudah sangat mendukung dengan memberikan waktu dan keringanan kepada Rimba Langit untuk berlatih,” sebutnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Dharmasraya, Boby Perdana Riza, disebut tetap memberikan dukungan kepada kontingen melalui delegasi pendampingan yang diserahkan kepada Kepala Seksi (Kasi) Peserta Didik, Reswita.
Merespons keluhan tersebut, Kasi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter Dinas Pendidikan Dharmasraya, Reswita, memberikan klarifikasi resmi melalui pesan WhatsApp pada Rabu (24/6/2026) malam sekitar pukul 21.25 WIB.
Reswita menjelaskan bahwa keterlambatannya hadir di lokasi perlombaan pada hari pertama dikarenakan adanya urusan keluarga inti yang tidak bisa ditinggalkan di Dharmasraya.
“Saya berangkat ke Padang subuh Selasa dari Dharmasraya. Karena Senin adik kandung menikah dan baralek. Saya sampai di lokasi sekitar pukul 10.30 WIB, sementara untuk kategori lead sudah selesai dilaksanakan,” jelasnya.
Ia juga meluruskan bahwa tim official sebenarnya tetap bekerja di lapangan, namun harus menyebar karena banyaknya cabang olahraga yang dipertandingkan dalam waktu bersamaan di lokasi yang berbeda.
“Nah, untuk panjat tebing saya mendampingi setelah cabang renang,” katanya.
Lebih lanjut, Reswita memaparkan bahwa kuantitas tim pendamping yang diturunkan sebenarnya cukup banyak untuk mengakomodasi para atlet.
“Jumlah official yang mendampingi kontingen Dharmasraya dalam ajang O2SN mencapai 31 orang, di luar cabang olahraga badminton,” tambahnya.
Perbedaan sudut pandang antara pihak keluarga atlet dan tim official ini menjadi sorotan hangat. Kasus ini mencuatkan pentingnya manajemen penjadwalan dan koordinasi yang lebih matang dalam kontingen, terutama bagi cabang-cabang olahraga krusial yang sudah mulai bertanding sejak hari pertama pelaksanaan O2SN tingkat provinsi. (Red)