Penulis: Bung Tanol

MALAM itu, Minggu, 26 Juli 2026. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 20.15 WIB. Hampir sepekan saya berada di Ibu Kota. Waktu berjalan begitu cepat, tetapi ada satu hal yang selalu saya cari setiap kali menginjakkan kaki di Jakarta; masakan Minang.
Lidah yang terbiasa dengan cita rasa kampung rupanya belum bisa berdamai dengan dominasi makanan bercita rasa manis.
Bersama dua rekan, kami berputar menuju kawasan Lokasari. Tujuannya sederhana, mencari rumah makan Minang langganan yang dikelola seorang perantau asal Tanah Datar yang akrab disapa Mak Etek. Namun malam itu keberuntungan belum berpihak. Warung Mak Etek tutup.
Setelah beberapa kali berkeliling, kami memutuskan melaju ke kawasan Stasiun Senen, tempat deretan penjual Nasi Kapau masih setia melayani pelanggan hingga malam.
Suasana warung begitu hangat. Aneka gulai, sambal, dan lauk tersusun rapi di etalase. Tanpa menunggu lama, kami menikmati hidangan yang seolah mengobati rindu pada kampung halaman.
Sambal menjadi pilihan pertama, lalu suapan demi suapan membuat piring kembali terisi. Kelezatan masakan itu membuat kami tak ragu menambah nasi.
Di tengah santap malam itulah seorang pria lanjut usia datang perlahan. Di tangannya tergenggam beberapa eksemplar koran.
Ia berhenti di setiap meja, menawarkan dagangannya dengan suara pelan dan senyum yang tak pernah lepas. Banyak yang menggeleng halus, sebagian hanya tersenyum. Ia kemudian melewati meja kami.
Entah mengapa, langkahnya membuat saya terpanggil. Saya mengejarnya dan mengajaknya berbincang. Namanya Slamet, kelahiran tahun 1945, berasal dari Pekalongan. Kini ia tinggal di kawasan Pasar Kemprong bersama sang istri. Di usianya yang telah memasuki 81 tahun, Pak Slamet dikaruniai enam orang anak dan dua belas cucu.
Dengan nada tenang, ia bercerita bahwa dirinya telah menjadi penjual koran sejak tahun 1980. Selama puluhan tahun ia menjajakan berbagai surat kabar seperti Warta Kota, Pos Kota, Kompas, hingga Merdeka. Dahulu koran menjadi sumber informasi utama masyarakat. Kini, ketika berita dapat diakses hanya melalui telepon genggam, profesi itu perlahan ditelan perubahan zaman.
“Sekarang saya hanya jualan malam saja sekitaran warung nasi di sini, kalau jualan malam paling terjual 10 lembar sampai 15 koran,” tuturnya.
Dari hasil penjualan itu, ia membawa pulang sekitar Rp50 ribu hingga Rp80 ribu. Jumlah yang mungkin terdengar kecil bagi sebagian orang, tetapi menjadi penopang hidup yang tetap ia syukuri setiap hari.
Perbincangan kami berlangsung cukup lama hingga saya baru menyadari, selama bercerita belum satu pun koran di tangan Pak Slamet yang terjual. Ada rasa haru yang sulit diungkapkan. Di balik senyumnya, tersimpan perjuangan panjang seorang ayah dan kakek yang masih memilih bekerja demi menjaga martabat hidup.
Sebelum kami berpisah, saya menyelipkan selembar uang ke tangannya. “Buat ongkos dan makan saja, Pak,” kata saya sambil tersenyum.
Pak Slamet membalas dengan ucapan terima kasih semoga anak Slamet juga seperti nama saya sambil menebarkan senyum yang jauh lebih hangat daripada gemerlap lampu kota malam itu.
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur, saya belajar bahwa tidak semua orang mengejar kemewahan. Sebagian hanya berusaha mempertahankan harapan, satu koran demi satu koran.
Dan malam itu, di sebuah warung Nasi Kapau dekat Stasiun Senen, saya bertemu dengan pelajaran tentang keteguhan, kesederhanaan, dan harga diri yang mungkin tak pernah tertulis di halaman depan surat kabar. (*)