Oleh: Risma Tri Januarti Mahasiswa S1 Kebidanan Universitas Dharmas Indonesia

Universitas Dharmas Indonesia
Masa remaja merupakan fase penting dalam kehidupan manusia yang ditandai dengan berbagai perubahan, baik secara fisik, emosional, maupun sosial.
Pada tahap ini, remaja berada dalam proses pencarian jati diri sehingga sangat rentan terhadap tekanan lingkungan dan konflik internal.
Sayangnya, perhatian terhadap kesehatan mental remaja masih sering kalah dibandingkan perhatian pada kesehatan fisik, padahal keduanya sama-sama berperan penting dalam menentukan kualitas hidup seseorang.
Kesehatan mental memengaruhi cara individu berpikir, merasakan, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Remaja dengan kesehatan mental yang baik akan lebih mampu mengelola stres, membangun hubungan sosial yang sehat, serta mengembangkan potensi diri secara optimal.
Sebaliknya, gangguan kesehatan mental dapat berdampak pada munculnya kecemasan, depresi, perubahan perilaku, hingga menurunnya prestasi akademik.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental pada remaja dipengaruhi oleh sejumlah faktor.
Salah satu faktor utama adalah pola asuh orang tua. Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi remaja untuk belajar mengenali emosi, nilai, dan cara berinteraksi dengan orang lain.
Pola asuh yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko munculnya masalah mental emosional.Pola asuh otoriter, misalnya, ditandai dengan aturan yang ketat, komunikasi satu arah, serta minimnya kesempatan bagi anak untuk menyampaikan pendapat.
Remaja yang tumbuh dalam pola asuh ini cenderung merasa tertekan, kurang percaya diri, dan lebih rentan mengalami gangguan emosional.
Di sisi lain, pola asuh permisif yang memberikan kebebasan tanpa batas juga tidak kalah berisiko. Kurangnya kontrol dan arahan dari orang tua dapat membuat remaja kesulitan mengendalikan emosi dan perilaku, serta kurang mampu menyesuaikan diri dengan norma sosial.
Selain pola asuh, rasa syukur juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mental remaja. Rasa syukur membantu individu untuk lebih fokus pada hal-hal positif dalam hidup, sehingga mampu mengurangi stres dan tekanan psikologis.
Remaja yang memiliki tingkat rasa syukur tinggi cenderung menunjukkan kesejahteraan psikologis yang lebih baik, emosi yang lebih stabil, serta hubungan sosial yang lebih positif.
Sikap ini membuat remaja lebih mampu menerima keadaan diri dan lingkungannya dengan lapang, sehingga risiko gangguan mental dapat diminimalkan.
Faktor lain yang turut memengaruhi kesehatan mental remaja adalah jenis kelamin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan mental dibandingkan remaja laki-laki.
Perubahan hormonal saat pubertas, tekanan sosial terkait citra tubuh, serta tuntutan peran sosial sering kali menjadi pemicu munculnya kecemasan dan depresi pada remaja perempuan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pendekatan terhadap kesehatan mental remaja perlu mempertimbangkan perbedaan karakteristik berdasarkan gender.
Data nasional juga memperlihatkan bahwa gangguan mental emosional pada remaja masih menjadi persoalan serius.
Gejala seperti kesepian, kecemasan berlebihan, hingga keinginan untuk menyakiti diri sendiri ditemukan pada sebagian remaja di Indonesia.
Hal ini menegaskan bahwa kesehatan mental remaja bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga memerlukan peran aktif dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Upaya menjaga kesehatan mental remaja dapat dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Orang tua diharapkan mampu menerapkan pola asuh yang seimbang, dengan mengombinasikan kasih sayang, komunikasi terbuka, serta aturan yang jelas.
Selain itu, penanaman nilai-nilai positif seperti rasa syukur dan penerimaan diri juga penting untuk membentuk ketahanan mental remaja.
Sekolah dan masyarakat pun memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan ramah bagi perkembangan psikologis remaja.
Pada akhirnya, kesehatan mental remaja merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Dengan memahami faktor-faktor yang memengaruhinya, diharapkan berbagai pihak dapat bersama-sama menciptakan kondisi yang mendukung tumbuh kembang remaja secara optimal, baik secara fisik maupun mental.
Kesimpulan dan saran pengembangan
Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis literatur, dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental remaja merupakan isu krusial yang dipengaruhi oleh berbagai faktor fundamental.
Faktor pertama adalah pola asuh orang tua; di mana pola asuh otoriter yang penuh tekanan serta pola asuh permisif yang minim arahan terbukti meningkatkan risiko masalah mental emosional pada remaja hingga ke level borderline.
Faktor kedua adalah dimensi spiritualitas melalui rasa syukur, yang terbukti menjadi pelindung alami bagi kesehatan mental, di mana remaja dengan rasa syukur tinggi memiliki peluang kesehatan mental positif 3,58 kali lebih besar.
Faktor ketiga adalah variabel gender, di mana remaja perempuan ditemukan memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap depresi dan gangguan emosional dibandingkan remaja laki-laki akibat perubahan biologis, tekanan citra tubuh, dan dinamika hubungan sosial.
Upaya preventif dan rekomendasi kesehatan mental remaja merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa, sehingga memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.
Berikut adalah langkah-langkah preventif yang dapat dilakukan:
- Bagi Orang Tua: Diharapkan mampu menerapkan pola asuh yang seimbang (demokratis), yang mengombinasikan kasih sayang dengan komunikasi dua arah serta aturan yang jelas untuk meminimalisir risiko gangguan emosional;
- Bagi Pendidik dan Sekolah: Perlu memahami bahwa kerentanan kesehatan mental berbeda antar gender, sehingga pendekatan pendampingan bagi siswa perempuan harus lebih sensitif terhadap isu kepercayaan diri dan citra tubuh;
- 3. Pengembangan Karakter: Penanaman nilai-nilai positif seperti rasa syukur dan penerimaan diri harus diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk ketahanan mental yang kuat dalam menghadapi stresor harian; dan
- Lingkungan Sosial: Sekolah dan masyarakat memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan ramah bagi perkembangan psikologis remaja guna mencegah perilaku berisiko seperti keinginan menyakiti diri sendiri.
Dengan kolaborasi aktif antara keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat, remaja diharapkan dapat tumbuh dengan kesehatan mental yang optimal, mampu mengembangkan potensinya secara penuh, serta siap menghadapi tantangan kompleks di masa dewasa.