
Penulis: Sumiwati Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Di ruang kelas, meja makan, bahkan media sosial, kita berulang kali mendengar pesan yang hampir sama: kejarlah cita-cita setinggi bintang.
Bintang itu hadir dalam berbagai wujud. Bagi sebagian orang, bintang adalah gelar sarjana. Bagi yang lain, bintang berarti memiliki pekerjaan bergengsi, meraih jabatan tinggi, atau menjadi kaya sebelum berusia tiga puluh tahun. Kita dididik untuk percaya bahwa kehidupan baru dianggap berhasil jika mampu menggapai sesuatu yang tinggi dan berkilau.
Tanpa disadari, hidup kemudian berubah menjadi perlombaan yang melelahkan. Kita berlari dengan kepala menunduk dan mata tertuju pada garis akhir.
Kita takut tertinggal, dianggap gagal, atau tidak bersinar seperti orang lain.Namun, kita melupakan satu hal sederhana: untuk melihat bintang, kita harus terlebih dahulu mendongak dan menatap langit.Menatap langit bukan sekadar aktivitas melihat hamparan biru dan awan yang bergerak.
Ia adalah metafora tentang kemampuan mengambil jeda. Kita perlu berhenti sejenak untuk menyadari kehidupan yang sedang dijalani, bukan terus-menerus memikirkan tujuan yang belum tercapai.
Sayangnya, banyak orang mulai kehilangan kemampuan tersebut. Kita tidak lagi mengetahui cara menikmati sore tanpa memikirkan tugas.
Kita sulit tertawa tanpa merasa bersalah karena belum produktif. Bahkan, duduk diam selama beberapa menit dapat membuat kita cemas karena merasa sedang membuang-buang waktu.
Padahal, langit mengajarkan banyak hal yang tidak selalu kita peroleh di ruang kelas. Ketika melihat bentangannya yang luas dan seolah-olah tidak berujung, kita diingatkan bahwa persoalan yang terasa begitu besar di kepala hanyalah bagian kecil dari semesta yang luas.
Langit juga mengajarkan bahwa tidak semua hal harus kita kendalikan. Ada saat ketika langit tampak cerah, ada kalanya mendung, dan sesekali hujan badai datang tanpa dapat dicegah. Semuanya merupakan bagian yang wajar dari perjalanan alam.Hidup pun demikian.
Tidak setiap hari harus dipenuhi keberhasilan dan kebahagiaan. Ada hari ketika kita merasa gagal, lelah, kecewa, dan sedih. Semua perasaan tersebut sah sebagai bagian dari pengalaman menjadi manusia. Kita tidak harus selalu terlihat kuat dan produktif.
Jika bersedia jujur, kita mulai kehilangan berbagai momen kecil yang sebenarnya menjadi inti kehidupan. Kapan terakhir kali kita menikmati makan siang tanpa membalas pesan pekerjaan? Kapan terakhir kali kita berbicara dengan keluarga tanpa pikiran melayang pada tugas dan target berikutnya? Kapan terakhir kali kita menikmati perjalanan tanpa terburu-buru ingin sampai?
Sering kali kita hadir secara fisik, tetapi pikiran terus mengembara ke masa depan, kepada bintang yang belum berhasil digapai. Tubuh kita berada di rumah bersama keluarga, tetapi pikiran masih tertinggal di ruang kerja. Kita menyantap makanan, tetapi tidak benar-benar merasakan nikmatnya. Kita berbicara dengan seseorang, tetapi tidak sungguh-sungguh mendengarkan.
Media sosial memperkuat kegelisahan tersebut. Setiap hari kita disuguhi etalase kesuksesan orang lain. Teman sebaya telah membeli kendaraan, sepupu berhasil menyelesaikan pendidikan magister di luar negeri, sedangkan kita masih berjuang menyelesaikan skripsi atau mencari pekerjaan.
Akhirnya, kita membandingkan bab pertama kehidupan sendiri dengan bab kedua puluh kehidupan orang lain. Kita merasa gagal bukan karena benar-benar tidak mampu, melainkan karena menganggap diri telah tertinggal.
Media sosial menampilkan pencapaian, tetapi jarang memperlihatkan keseluruhan perjuangan. Kita melihat foto kelulusan tanpa mengetahui malam-malam panjang yang dilalui. Kita menyaksikan keberhasilan seseorang memperoleh pekerjaan tanpa melihat berbagai penolakan yang pernah diterimanya. Kita melihat bintangnya bersinar, tetapi tidak mengetahui berapa lama ia berjalan dalam kegelapan.
Padahal, setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Bunga-bunga tidak mekar secara bersamaan, tetapi perbedaan waktu tidak membuat salah satunya kehilangan keindahan. Begitu pula manusia: ada yang menemukan jalannya lebih awal, ada pula yang membutuhkan perjalanan lebih panjang.
Kita terlalu sibuk memandang terang bintang orang lain hingga lupa bahwa kita juga mempunyai langit sendiri yang perlu dijaga.
Menatap langit berarti belajar berdamai dengan diri sendiri. Di bawah langit, tidak ada perlombaan. Langit tidak pernah menanyakan indeks prestasi, jabatan, jumlah pengikut, ataupun besarnya penghasilan kita. Ia tetap terbentang dan menerima siapa pun tanpa syarat.
Di bawah langit yang sama, kita berdiri sebagai manusia. Kaya maupun miskin, pintar maupun biasa saja, terkenal ataupun tidak dikenal, semuanya memperoleh naungan yang sama. Dari sanalah kita belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari pengakuan orang lain, tetapi dapat tumbuh dari kedamaian dalam menerima diri sendiri.
Kita perlu mempelajari kembali seni berhenti sejenak. Duduk di teras, melihat awan bergerak perlahan, mendengarkan angin sore, atau berbicara dengan keluarga tanpa gangguan bukanlah tindakan membuang-buang waktu.
Jeda merupakan cara untuk mengisi kembali jiwa yang lelah setelah terlalu lama berlari.Sayangnya, kita lebih banyak diajarkan tentang ambisi daripada ketenangan. Kita diajarkan untuk terbang tinggi, tetapi tidak selalu diajarkan cara menikmati pemandangan selama perjalanan. Kita mengetahui cara mengejar, tetapi sering lupa bersyukur. Kita pandai menyusun target, tetapi tidak memahami kapan harus beristirahat.
Akibatnya, tidak sedikit orang berhasil menggenggam bintangnya, memperoleh gelar, pekerjaan, jabatan, dan berbagai hal yang pernah diimpikan, tetapi hatinya tetap gelisah dan kosong. Mereka sampai di tujuan dalam keadaan kelelahan karena menempuh perjalanan tanpa pernah berhenti untuk bernapas.
Mungkin sudah waktunya kita mendefinisikan kembali arti kesuksesan. Sukses bukan hanya tentang seberapa tinggi pencapaian kita, melainkan juga tentang apakah kita masih mengenali diri sendiri ketika sampai di sana. Sukses adalah kemampuan mencapai tujuan tanpa kehilangan kesehatan, keluarga, rasa syukur, dan kedamaian batin.
Mengejar bintang tetaplah penting. Bintang memberikan arah, tujuan, dan alasan untuk terus melangkah. Namun, menatap langit juga tidak kalah penting agar kita tidak kehilangan makna dalam perjalanan menuju tujuan tersebut.
Pada akhirnya, bintang dapat meredup dan prestasi mungkin dilupakan. Namun, kemampuan menikmati hidup, mensyukuri langkah-langkah kecil, dan berdamai dengan diri sendiri akan terus menyertai kita.
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar bintang hingga lupa menikmati langit yang menaungi perjalanan. Bermimpilah setinggi mungkin, tetapi tetaplah membumi. Berjalanlah menuju masa depan, tetapi jangan kehilangan hari ini. Sebab, hidup bukan hanya tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan juga tentang seberapa sadar kita menikmati setiap langkah dalam perjalanan.