Oleh: Sumiwati Mahasiswa Prodi S-1 Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI

Sumiwati Mahasiswa Prodi S-1 Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI

Dunia hari ini bergerak dengan kecepatan yang sering kali melampaui kemampuan manusia untuk berhenti dan merenung.

Informasi datang tanpa jeda, opini berseliweran dari berbagai arah, dan penilaian dapat terbentuk hanya dalam hitungan detik.

Dalam keramaian semacam itu, percaya baik kepada diri sendiri, kepada nilai-nilai yang diyakini, maupun kepada makna hidup sering kali terasa rapuh.

Tidak sedikit orang yang akhirnya memilih diam, ragu, bahkan menyerah, karena merasa suaranya tenggelam dalam bising dunia yang tak pernah benar-benar sunyi.

Keramaian dunia bukan hanya tentang jumlah manusia, tetapi tentang banjir standar yang dipaksakan.

Ukuran bahagia, sukses, dan benar seolah telah dirumuskan secara seragam, harus cepat, terlihat, dan diakui.

Media sosial memperkuat ilusi bahwa hidup yang layak adalah hidup yang selalu tampak baik-baik saja.

Kegagalan disembunyikan, proses dipotong, dan kesabaran dianggap ketinggalan zaman. Dalam situasi seperti ini, percaya menjadi ujian batin.

Seseorang dipaksa bertanya pada dirinya sendiri, apakah keyakinan yang ia pegang masih berasal dari suara hati, atau sudah berganti rupa menjadi tuntutan dunia? Tetap percaya bukan berarti menutup diri dari kritik atau menolak perbedaan pendapat.

Sebaliknya, percaya justru menuntut kedewasaan untuk mendengar tanpa kehilangan jati diri. Dunia yang ramai memerlukan sikap selektif: tidak semua suara harus diikuti, tidak semua penilaian layak dijadikan beban.

Percaya membantu seseorang memilah mana yang membangun dan mana yang hanya menambah kebisingan. Tanpa sikap ini, manusia mudah terseret arus, hidupnya ditentukan oleh reaksi sesaat, bukan oleh kesadaran yang matang.

Sering kali, jalan hidup yang jujur justru berjalan sunyi. Kerja keras yang konsisten jarang mendapat tepuk tangan, kesetiaan pada nilai sering di salah pahami, dan kejujuran kerap dianggap naif.

Dunia lebih cepat memberi panggung pada sensasi daripada ketekunan. Namun di titik inilah percaya menunjukkan kekuatannya. Ia tidak bergantung pada sorak-sorai, melainkan bertahan karena keyakinan bahwa kebenaran dan makna tidak selalu membutuhkan pengakuan.

Percaya mengajarkan bahwa yang benar tidak selalu ramai, dan yang ramai tidak selalu benar.Di tengah dunia yang penuh tuntutan, rasa lelah adalah hal yang manusiawi.

Ada kalanya percaya goyah, bahkan nyaris runtuh. Kegagalan, penolakan, dan kekecewaan bisa membuat seseorang mempertanyakan kembali semua yang ia yakini.

Namun goyah bukan berarti kalah. Justru dari keraguan, percaya dapat tumbuh menjadi lebih dalam.

Percaya yang matang bukan percaya yang polos, melainkan percaya yang telah diuji oleh kebisingan, luka, dan realitas yang tidak selalu ramah.

Percaya juga berarti berani memberi makna pada perjalanan hidup sendiri, bukan sekadar menyalin makna yang disediakan dunia.

Dalam arus perbandingan yang tiada henti, manusia sering lupa bahwa setiap hidup memiliki waktunya masing-masing. Tidak semua benih tumbuh di musim yang sama, dan tidak semua keberhasilan datang dengan cara serupa.

Dengan percaya, seseorang belajar menghargai prosesnya sendiri tanpa terus-menerus mengukur diri dengan pencapaian orang lain.

Hidup tidak lagi dipahami sebagai perlombaan, melainkan sebagai perjalanan yang unik dan personal.Selain itu, percaya berkaitan erat dengan kejujuran pada diri sendiri.

Banyak orang tampak yakin di luar, tetapi rapuh di dalam karena hidupnya dibangun di atas pengakuan semu. Percaya yang sejati tidak membutuhkan topeng.

Ia hadir ketika seseorang berani mengakui keterbatasan, berdamai dengan kekurangan, dan tetap melangkah tanpa harus menjadi sempurna.

Dunia mungkin menyukai kemasan, tetapi hidup membutuhkan keaslian. Sejarah dipenuhi oleh individu-individu yang mencapai hal-hal besar karena mereka berani mempercayai ide-ide mereka sendiri ketika orang lain meragukannya.

Keaslian sering kali lahir dari keberanian untuk berbeda. Dengan memercayai suara hati di tengah kebisingan dunia, kita membuka ruang untuk kreativitas dan inovasi.

Kita berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan mulai fokus pada pengembangan potensi unik kita, yang pada akhirnya bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat luas.

Dalam relasi dengan sesama, percaya membantu menjaga kemanusiaan. Di tengah polarisasi opini dan perdebatan tanpa ujung, mudah sekali melihat orang lain sebagai lawan, bukan sebagai manusia dengan cerita dan luka masing-masing.

Percaya menumbuhkan empati, kemampuan untuk berbeda tanpa saling meniadakan. Ia mengajarkan bahwa mempertahankan nilai tidak harus disertai dengan merendahkan orang lain.

Justru dalam sikap tenang dan terbuka, percaya menemukan bentuknya yang paling dewasa.Pada akhirnya, dunia akan terus ramai, dengan atau tanpa persetujuan kita.

Yang menjadi pilihan adalah bagaimana kita menempatkan diri di dalamnya. Tetap percaya adalah bentuk perlawanan yang tenang ,perlawanan terhadap kepalsuan, terhadap kepanikan massal, dan terhadap godaan untuk kehilangan arah.

Dalam keramaian dunia, percaya adalah kompas. Ia mungkin tidak bersuara keras, tetapi ia setia menunjukkan jalan, menjaga manusia tetap waras, dan menuntun langkah agar tidak kehilangan makna di tengah bising yang tak pernah berhenti.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version