Oleh: Amelisa Olimpia Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Undhari

Amelisa Olimpia Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Indonesia
FKIP Undhari

Setiap manusia hidup di dua dunia: Dunia mimpi yang di penuhi harapan dan di dunia kenyataan yang sering dibatasi dengan keadaan. Di antara keduanya, terdapat ruang yang menjadi pertarungan antara batin dan pikiran.

Di dunia mimpi, kita merasa bebas dan tak terbatas melambungkan sesuatu yang kita inginkan setinggi mungkin.

Batin kita bersorak gembira ketika membayangkan diri kita akan banyak dikelilingi dengan orang-orang yang baik dan menyayangi kita, kita membayangkan diri kita akan berjalan dengan lancar untuk mencapai keinginan kita seperti air yang mengalir.

Pikiran kita melayang ketempat-tempat yang sangat indah dan sempurna. Mimpi adalah tempat dimana kita bisa menjadi siapapun seperti yang kita inginkan.

Namun, ketika kita kembali ke dunia kenyataan, kita juga harus bisa menjadikan mimpi yang kita inginkan menjadi kenyataan.

Meskipun di dunia kenyataan kita mempunyai keadaan seperti kesulitan ekonomi, batas kemampuan, dan bahkan rintangan dari orang lain yang sering menghalangi jalur kita.

Namun dibalik ini semua ini lah saatnya pertarungan yang sesungguhnya akan dimulai.

Pertarungan antara batin dan pikiran,di mana batin kita yang terus berseru untuk mengejar mimpi, tetapi pikiran kita selalu mengingatkan kita tentang batasan yang ada.

Kita merasa terjebak di tengah-tengah ragu apakah harus terus berjuang atau malah menyerah. Pada saat itu, pilihan yang kita buat akan menentukan arah jalan kita.

Jika kita membiarkan pikiran kita menguasai,maka batasan akan menjadi tembok yang tak terlewati.

Tetapi jika kita memberikan kekuatan pada batin kita,maka batasan itu akan berubah menjadi tangga yang akan membawa kita ke atas.

Kita tidak perlu menolak kenyataan yang ada dan sebaliknya,kita bisa menggunakan sebagai fondasi untuk membangun mimpi kita.

Kesulitan ekonomi bisa menjadi dorongan untuk mencari cara yang lebih cerdas, batas kemampuan bisa menjadi alasan untuk belajar lebih giat, dan rintangan dari orang lain bisa menjadi bukti bahwa kita sedang menuju jalan yang tak biasa.

Setiap hari menjadi peperangan kecil bagi kita, ketika kita banggun pagi dengan rasa lelah tapi tetap memutuskan untuk bergerak, ketika kita menghadapi penolakan tetapi tetap minta sekali lagi, ketika kita melihat orang lain lebih maju dari kita tetapi kita tetap berjalan dengan cara dan waktu kita sendiri.

Pertarungan antara batin dan pikiran tidak akan berakhir pada satu hari,tetapi ia akan terus berlanjut sepanjang perjalanan.

Tapi seiring waktu, kita akan belajar membuat pikiran kita bekerja sama untuk membuat langkah-langkah, dan membiarkan batin kita memberikan semangat untuk melangkah maju.

Dan hanya saat itu, mimpi yang terasa jauh akan mulai mendekati kenyataan, dan kita akan menyadari bahwa perjuangan yang sebenarnya bukan untuk mengalahkan sesuatu, tetapi melainkan untuk menemukan siapa kita sesungguhnya dan apa yang mampu untuk kita capai.

Ketika kita mulai menemukan jati diri kita dan batas kemampuan yang sebenarnya, dunia mimpi dan kenyataan tidak lagi menjadi dua hal yang saling bertantangan melainkan dua sisi yang sama.

Mimpi memberi kita arah, sedangkan kenyataan memberi tempat untuk kita mulai berjalan.

Kita tidak lagi terjebak diantara keduanya, melainkan belajar untuk menyimbangkan dua asfek dari satu hal yang sama.

Setiap langkah yang kita tempuh di dunia kenyataan, meskipun sebesar biji pasir, akan menjadi batu loncatan menuju mimpi yang kita impikan.

Seperti seorang pelukis yang mulai dengan kanvas kosong dan cat yang terbatas, kita belajar mencampur warna kenyataan dengan bayangan mimpi untuk menciptakan lukisan yang indah dan berarti.

Tidak lagi ada perang antara batin dan pikiran, keduanya bersatu menjadi kekuatan yang tak terpisahkan. Pikiran memberi kita rencana yang cerdas,sedangkan batin memberi kita semangat yang tak terputus.

Kita ambil contoh seorang pelajar yang bermimpi menjadi dokter, tetapi dihadapkan dengan kesulitan ekonomi yang berat.

Di dunia mimpi, dia melihat dirinya menanggani pasien dengan penuh kasih.

Di dunia kenyataan, dia harus bangun pagi untuk bekerja sambil belajar dan tidak ada waktu untuk meratapi ketidaksetaraan.

Sebaliknya, dia menggunakan kesulitan itu sebagai bahan bakar untuk belajar lebih giat, mencari beasiswa, dan meminta bimbingan dari dosen.

Setiap hari yang dilewati dengan lelah, adalah langkah untuk mendekati titik di mana mimpi dan kenyataan bertemu.

Pada akhirnya, ketika dia memegang gelar dokter, dia menyadari bahwa kesulitan yang pernah dia alami bukanlah rintangan, melainkan bagian dari mimpi yang sebenarnya.

Mimpi yang lebih kuat, lebih berarti , karena dibangun di atas landasan kenyataan yang nyata.

Begitulah juga dengan kita semua.Ketika kita belajar menyatukan mimpi dan kenyataan, kita tidak lagi hidup di dua dunia yang terpisah tetapi kita hidup di satu dunia yang penuh makna, di mana harapan memberi kita nafas dan kenyataan memberi kita kaki untuk berdiri.

Antara mimpi dan kenyataan tidak ada lagi jurang yang tak terlewati hanya jalan yang kita buat sendiri, langkah demi langkah, menuju tempat di mana kita bisa berkata “Ini adalah hidup yang saya impikan, dan ini adalah hidup yang saya jalani”.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version