Subscribe to Updates
Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.
- Plasma 20% Jadi Harga Mati, PT TKA Diberi Waktu 1 Minggu
- Cemari Lingkungan, PT Tidar Kerinci Agung Dijatuhi Denda Rp 737 Juta dan Sanksi Paksaan Pemerintah
- Gempur PETI di 9 Kabupaten, KESDM Ketok Palu Penetapan Ratusan Blok WPR di Sumbar
- Keunggulan Hukum Tanda Tangan Digital Untuk Mempercepat Perjanjian Bisnis
- Kehidupan Asrama Sebagai Sarana Pembentukan Karakter Mahasiswa
- Peran Generasi Muda Dalam PembangunanEkonomi Berkelanjutan
- Tim UNDHARI Motivasi SMAN 2 Tebo, Kesuksesan Bukan Hanya Soal di Mana Kita Kuliah
- Penyalahgunaan Uang Negara dan Dampaknya bagi Masyarakat
Penulis: redaksi galanggang
Oleh :Rio Alfiandawa Mahasiswa Prodi S-1 Manajemen FHEB UNDHARI Dalam beberapa dekade terakhir, ruang publik Indonesia dipenuhi oleh suara generasi muda. Media sosial dipadati kritik kebijakan, tagar protes, hingga perdebatan politik yang melibatkan mahasiswa dan anak muda dari berbagai latar belakang. Sekilas, fenomena ini terlihat sebagai tanda positif: demokrasi seolah hidup, partisipasi politik meningkat, dan generasi muda tidak lagi dicap sebagai kelompok apatis. Namun, pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah, apakah semua keramaian ini benar-benar mencerminkan kesadaran politik yang kritis dan matang? Ataukah justru hanya menjadi euforia digital yang cepat ramai dan cepat pula dilupakan? Media sosial memang menjadi alat…
Oleh: Sumiwati Mahasiswa Prodi S-1 Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI Dunia hari ini bergerak dengan kecepatan yang sering kali melampaui kemampuan manusia untuk berhenti dan merenung. Informasi datang tanpa jeda, opini berseliweran dari berbagai arah, dan penilaian dapat terbentuk hanya dalam hitungan detik. Dalam keramaian semacam itu, percaya baik kepada diri sendiri, kepada nilai-nilai yang diyakini, maupun kepada makna hidup sering kali terasa rapuh. Tidak sedikit orang yang akhirnya memilih diam, ragu, bahkan menyerah, karena merasa suaranya tenggelam dalam bising dunia yang tak pernah benar-benar sunyi. Keramaian dunia bukan hanya tentang jumlah manusia, tetapi tentang banjir standar yang dipaksakan. Ukuran bahagia,…
Oleh: Sajad Hartobin Mahasiswa Prodi S-1 Manajemen FHEB UNDHARI Pulau Sumatra dalam beberapa waktu terakhir kembali menjadi sorotan nasional akibat serangkaian bencana alam yang terjadi hampir bersamaan di berbagai wilayah. Banjir besar, tanah longsor, dan banjir bandang melanda sejumlah provinsi, menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan serius terhadap aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Peristiwa ini tidak dapat dipandang semata-mata sebagai kejadian alam yang bersifat kebetulan, melainkan sebagai gejala kompleks yang mencerminkan interaksi antara faktor alam, aktivitas manusia, serta kelemahan dalam sistem pengelolaan lingkungan dan kebencanaan. Secara geologis dan klimatologis, Sumatra memang merupakan wilayah yang rentan terhadap bencana. Pulau ini…
Oleh: Djiwi Sofyandari Mahasiswa Prodi S-1 Manajemen FHEB Undhari Generasi Z adalah generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital dan media sosial yang sangat pesat. Sejak kecil, Generasi Z sudah akrab dengan gawai, internet, dan berbagai aplikasi media sosial. Media sosial bukan hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi tempat untuk mengekspersikan diri, membangun citra diri, serta mencari pengakuan dari orang lain. Namun, dibalik kemudahan dan keseruannya, penggunaan media sosial yang berlebihan juga memunculkan masalah yang dikenal sebagai kegaulan digital, yang berpengaruh pada kesehatan mental Generasi Z. Kegalauan digital menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa cemas, tidak percaya diri, dan…
Oleh: Resza Wulandari Mahasiswa Prodi S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI Laut selalu hadir sebagai hamparan biru yang menenangkan mata dan jiwa. Debur ombaknya menjadi musik alam yang menyejukkan, sementara cakrawala yang menyatu dengan langit menghadirkan kesan kebebasan tanpa batas. Bagi banyak orang, laut adalah simbol keindahan, ketenangan, dan tempat pelarian dari hiruk-pikuk kehidupan. Namun, di balik keindahan biru yang kita kagumi, laut menyimpan kesedihan yang kerap luput dari perhatian manusia.Lautan, yang mencakup lebih dari 70% permukaan bumi, adalah sumber kehidupan dan keajaiban. Birunya yang pekat memikat mata, dan kedalamannya menjanjikan misteri yang tak terhitung jumlahnya.Di bawah permukaan yang beriak…
Oleh: Yeni Diah Sari Mahasiswa Prodi S-1 Manajemen FHEB UNDHARI Menjaga toleransi di tengah perbedaan bukan sekadar etika sosial, melainkan fondasi utama agar sebuah bangsa—terutama yang majemuk seperti Indonesia—tidak runtuh. Toleransi adalah “lem” yang merekatkan berbagai elemen yang berbeda agar tetap menjadi satu kesatuan yang utuh.Berikut adalah beberapa opini kuat mengapa menjaga toleransi itu sangat krusial. Tanpa toleransi, perbedaan (baik agama, suku, maupun ras) sangat mudah dipicu menjadi konflik. Ketegangan yang berujung pada kekerasan sering kali berawal dari rasa tidak menghargai identitas orang lain. Toleransi berfungsi sebagai peredam benturan agar gesekan sosial tidak berubah menjadi api permusuhan. Negara yang damai…
Oleh: Rini Risdiani Mahasiswa Prodi S-1 Manajemen FHEB UNDHARI Generasi Z di tengah dunia yang serba cepat, terkoneksi secara digital, dan penuh tuntutan sosial. Akses informasi yang luas membuat generasi ini lebih sadar akan isu kesehatan mental, keberagaman, dan kondisi sosial di sekitarnya. Namun, di balik keterbukaannya tersebut, Generasi Z juga kerap menghadapi tekanan emosional, perasaan cemas, dan ketidakpastiaan masa depan. Dalam konteks ini, subjective well-being atau kesejahteraan subjektif menjadi aspek penting untuk diperhatikan, dan empati memegang peran besar dalam membentuknya. Subjective well-being merujuk pada bagaimana seseorang menilai kebahagiaan dan kepuasaan hidupnya secara pribadi. Hal ini tidak berkaitan dengan kondisi…
Oleh: Aulia Santika Mahasiswa Prodi S-1 Manajemen FHEB UNDHARI Di era modern yang serba cepat, tuntutan perkerjaan sering kali menyita sebagian besar waktu dan energi seseorang. Target, deadline, serta tekanan untuk selalu produktif membuat banyak orang tanpa sadar mengorbankan hubungan interpersonal baik dengan keluarga, pasangan, maupun teman. Padahal, hubugan sosial yang sehat memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup. Oleh karena itu, manajemen waktu menjadi kunci utama untuk mencapai keseimbangan antara perkerjaan dan hubungan interpersonal. Manajemen waktu bukan sekedar membuat jadwal yang padat, tetapi tentang kemampuan menentukan prioritas. Banyak orang terjebak dalam kesibukan tanpa benar-benar memahami apa…
Oleh: Syarif Hidayat Mahasiswa S1 Manajemen, Fakultas Hukum dan Ekonomi Bisnis, Universitas Dharmas Indonesia Berawal dari seorang anak yang masih duduk di kelas dua SMA. Sejak kecil, hidupnya sudah penuh ujian. Kedua orang tuanya bercerai saat ia masih bayi, sehingga ia dibesarkan oleh ibunya seorang diri. Sejak saat itu, ibunyalah yang menjadi satu-satunya orang tua sekaligus sandaran hidupnya. Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang rajin dan cukup berprestasi, tetapi sangat pendiam. Ia jarang bicara kalau tidak ditanya dan lebih sering menyimpan perasaannya sendiri. Hidup tanpa sosok ayah sejak kecil membuatnya terbiasa menghadapi banyak hal sendirian. Setiap hari, ia berangkat…
Oleh : Wandi Malin (Wartawan Haluan) Ungkapan no viral, no justice kini menjelma menjadi ironi nasional. Ia bukan sekadar jargon media sosial, melainkan refleksi jujur atas cara keadilan bekerja atau justru tak bekerja di negeri ini. Di tingkat nasional, publik berulang kali menyaksikan bagaimana kasus hukum yang semula berjalan lambat tiba-tiba melaju kencang setelah menjadi viral. Penanganan berubah drastis bukan karena munculnya alat bukti baru, melainkan karena sorotan publik yang tak terbendung. Kasus penganiayaan, kekerasan seksual, hingga kejahatan yang melibatkan figur berpengaruh sering kali menunjukkan pola yang sama. Sebelum viral, laporan masyarakat terkatung-katung. Setelah viral, aparat bergerak cepat, konferensi pers…