Padang, Galanggang.id — Di balik Pelantikan Pengurus Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Wilayah Sumatera Barat beberapa waktu lalu, terselip kisah menarik tentang perjalanan seorang jurnalis yang berangkat dari ruang redaksi ke gelanggang advokasi transisi energi.

Namanya Muhammad Fauzi. Reporter Harian Haluan ini resmi dilantik sebagai Sekretaris Jenderal METI Sumbar, posisi strategis yang menuntut ketelitian, jejaring lintas sektor, sekaligus keberanian menyuarakan kepentingan publik.

Bagi Fauzi, amanah tersebut bukan sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan kelanjutan dari jalan panjang yang sudah ia tempuh.

“Isu energi terbarukan itu bukan semata soal teknologi atau proyek. Ia bicara soal keberpihakan, keadilan, dan masa depan masyarakat. Di titik itu, jurnalisme dan gerakan sipil bertemu,” kata Fauzi usai pelantikan.

Jurnalis, Aktivis, dan Akademisi Fauzi lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1997, tanggal yang sama dengan hari lahir Bung Hatta, proklamator sekaligus putra terbaik Ranah Minang.

Sebuah kebetulan historis yang kerap disebut kolega-koleganya sebagai penanda kuatnya spirit kritis dan keberpihakan pada kepentingan rakyat dalam dirinya.

Ia dikenal sebagai jurnalis dengan latar belakang aktivis HMI, organisasi yang membentuk nalar kritis dan keberanian bersuara sejak muda. Di luar dunia pers, Fauzi juga aktif di struktur kepemudaan KNPI Kota Bukittinggi, serta tercatat sebagai Pengurus Pemuda PERTI Kabupaten Dharmasraya.

Tak berhenti di praktik lapangan, Fauzi saat ini juga menempuh pendidikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Andalas. Dunia akademik menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan perspektif atas isu-isu yang selama ini ia liput di lapangan.

Konsisten di Isu Publik sejak awal karier jurnalistiknya, Fauzi dikenal konsisten menggarap isu-isu lingkungan hidup, hukum dan HAM, kriminal, konflik agraria, ekonomi, politik pemerintahan, hingga olahraga. Spektrum liputannya luas, namun benang merahnya tegas, keberpihakan pada kepentingan publik.

Selama lima tahun terakhir di Harian Haluan, media legendaris Ranah Minang tulisannya hadir di edisi cetak maupun digital. Gaya penulisannya lugas, cair, dan dekat dengan denyut keseharian masyarakat.

Masuknya Fauzi ke jajaran pengurus METI Sumbar pun dinilai sebagai langkah yang logis. Dari sekadar melaporkan persoalan, kini ia berada di ruang yang memungkinkan ikut mengawal solusi maupun kebijakan.

Sebagai Sekjen METI Sumbar, Fauzi bertanggung jawab pada penguatan tata kelola organisasi, koordinasi lintas sektor, serta komunikasi publik. Peran ini krusial, mengingat METI menjadi wadah kolaborasi antara akademisi, praktisi energi, komunitas, dan pemerhati lingkungan.

Di Sumatera Barat, daerah dengan potensi besar energi air, panas bumi, hingga surya k.ehadiran METI diharapkan tak sekadar menjadi pelengkap kebijakan.

“Sumbar kaya sumber energi. Tantangannya ada pada tata kelola dan keberpihakan. METI ingin hadir sebagai mitra kritis, bukan penonton,” ujar Fauzi.

Kata, Data, dan NuraniLatar belakang jurnalistik memberi Fauzi nilai tambah tersendiri. Ia terbiasa membaca kebijakan, mengurai data, dan menerjemahkan isu teknis agar bisa dipahami publik.

Di sisi lain, keterlibatannya di METI membuka ruang bagi jurnalisme yang lebih kontekstual bukan hanya mencatat peristiwa, tapi juga memahami proses dan substansi serta memastikan semuanya On the Track tanpa ada satupun pihak yang dirugikan.

Pelantikan METI Sumbar menjadi penanda bahwa gerakan transisi energi di Ranah Minang tak hanya digerakkan oleh teknokrat, tetapi juga oleh mereka yang terbiasa bekerja dengan kata, data, dan nurani.Bagi Fauzi, peran ganda sebagai jurnalis, aktivis, dan penggerak organisasi adalah tantangan yang harus dijaga keseimbangannya.

“Energi bersih itu soal masa depan. Soal ruang hidup dan lingkungan, harus kita kawal, agar tidak justru melahirkan penindasan dan perampasan,” tutupnya. (Red)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version