Oleh: Sa’ad Hidayatullah Mahasiswa Prodi S-1 Manajemen FHEB UNDHARI

Sa’ad Hidayatullah
Mahasiswa Prodi S-1 Manajemen FHEB UNDHARI

Setiap pagi, ketika matahari perlahan menyinari lorong-lorong kampus Universitas Dharmas Indonesia (Undhari), ingatan saya kerap melayang ke rumah di kota kecil saya yang jauh di pedalaman Jambi.

Sebagai seorang perantau yang telah dua tahun menempuh pendidikan di Dharmasraya daerah yang dikenal sebagai Ranah Cati Nan Tigo, wilayah multikultural, sekaligus tanah bersejarah para raja kehidupan kampus ini bukan sekadar tentang mengejar gelar akademik, tetapi juga tentang belajar hidup mandiri, menata rindu, dan merajut cita-cita masa depan.

Kehidupan perantauan di Undhari perlahan membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh, meskipun rasa sepi kadang masih menyelinap di sela-sela kesibukan.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Dharmasraya, hampir semua terasa asing. Lingkungan baru, cuaca yang berbeda, ragam budaya yang berpadu, serta logat bahasa yang beragam mencerminkan karakter Dharmasraya sebagai daerah multikultural yang dinamis.

Saya tinggal di asrama bersama tiga teman sekamar yang berasal dari latar belakang daerah yang berbeda. Pada awalnya, beradaptasi dengan kebiasaan masing-masing bukanlah perkara mudah.

Jadwal tidur yang tidak sama, cara belajar yang berbeda, hingga selera makan yang beragam kerap memicu rasa jenuh. Pada malam-malam tertentu, saya menangis diam-diam, merindukan masakan ibunda dan petuah ayah yang sederhana namun menenangkan.

Namun, seiring waktu, saya menyadari bahwa perantauan adalah bagian penting dari proses pendewasaan, dan Dharmasraya memberi ruang yang luas untuk belajar tentang itu.

Sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang kerajaan-kerajaan di masa lalu, Dharmasraya bukan hanya menawarkan kekayaan budaya, tetapi juga nilai-nilai kebijaksanaan dan kebersamaan.

Hal itu terasa pula di lingkungan kampus Undhari. Fasilitas akademik yang memadai mulai dari perpustakaan hingga ruang belajar menjadi penopang utama dalam proses menuntut ilmu.

Para dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga pembimbing yang kerap memberi nasihat, baik akademik maupun kehidupan.Saya juga aktif mengikuti organisasi mahasiswa, seperti UKM kesenian dan Himpunan Mahasiswa Program Studi, hingga Badan Eksekutif Mahasiswa.

Di sanalah saya bertemu dengan banyak teman seperantauan yang memiliki kisah perjuangan serupa. Kami saling berbagi cerita, berbagi makanan sederhana, dan saling menguatkan dalam menghadapi tugas kuliah.

Kebersamaan itu perlahan mengikis rasa asing dan membuat saya merasa memiliki “keluarga baru” di perantauan.Meski demikian, kehidupan sebagai mahasiswa perantau tidak lepas dari tantangan. Persoalan ekonomi menjadi ujian yang kerap datang.

Saya harus pandai mengatur uang kiriman orang tua untuk kebutuhan makan, asrama, serta keperluan kuliah. Keinginan pribadi sering kali harus dikalahkan demi bertahan hingga akhir bulan.

Selain itu, tekanan akademik menuntut kedisiplinan dan kemandirian yang tinggi, karena tidak ada orang tua yang mengawasi secara langsung.Ada kalanya rasa lelah dan keinginan menyerah datang menghampiri.

Namun, setiap kali itu terjadi, ingatan akan pengorbanan orang tua dan harapan masa depan selalu menjadi sumber kekuatan untuk bangkit kembali. Momen paling mengharukan adalah saat libur semester tiba dan saya bisa kembali bertemu keluarga.

Senyum ibunda dan ayah seolah menghapus seluruh letih dan rindu. Namun, ketika waktunya kembali ke Dharmasraya, hati kembali diuji oleh perpisahan.

Kini, setelah dua tahun menjalani kehidupan perantauan di Undhari, saya merasa lebih percaya diri dan mandiri. Saya belajar memahami perbedaan, berkomunikasi dengan beragam latar budaya, serta menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Dharmasraya, dengan segala keberagamannya, telah mengajarkan makna hidup yang tidak saya temukan di ruang kelas semata.

Meskipun rindu akan rumah selalu bersemayam di hati, saya telah menemukan rumah kedua di kampus Universitas Dharmas Indonesia. Kehidupan perantauan di Undhari adalah perpaduan antara rindu dan cita-cita antara air mata dan harapan.

Untuk setiap mahasiswa perantau yang akan menapaki langkah di kampus ini, jangan takut menghadapi tantangan. Sebab dari sanalah kita ditempa menjadi pribadi yang lebih kuat, dewasa, dan bermakna.

Karena sejatinya, kehidupan perantauan di Undhari bukan hanya tentang mengejar gelar, tetapi tentang menemukan jati diri dan arti kehidupan yang sesungguhnya.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version