Oleh: Syarif Hidayat Mahasiswa S1 Manajemen, Fakultas Hukum dan Ekonomi Bisnis, Universitas Dharmas Indonesia

Berawal dari seorang anak yang masih duduk di kelas dua SMA. Sejak kecil, hidupnya sudah penuh ujian.
Kedua orang tuanya bercerai saat ia masih bayi, sehingga ia dibesarkan oleh ibunya seorang diri.
Sejak saat itu, ibunyalah yang menjadi satu-satunya orang tua sekaligus sandaran hidupnya.
Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang rajin dan cukup berprestasi, tetapi sangat pendiam. Ia jarang bicara kalau tidak ditanya dan lebih sering menyimpan perasaannya sendiri.
Hidup tanpa sosok ayah sejak kecil membuatnya terbiasa menghadapi banyak hal sendirian.
Setiap hari, ia berangkat ke sekolah dengan menumpang motor temannya karena tidak memiliki kendaraan sendiri. Namun, hal itu tidak pernah ia jadikan alasan untuk malas atau datang terlambat.
Baginya, sekolah adalah satu-satunya jalan untuk mendekatkan diri pada mimpinya, yaitu bisa kuliah dan mengubah masa depan agar ibunya tidak terus hidup dalam kesulitan.
Sayangnya, kehidupan sekolah tidak selalu berjalan mulus. Ia sering diejek oleh teman-temannya karena kondisi fisiknya, terutama matanya yang juling.
Awalnya hanya bercandaan, tetapi lama-kelamaan berubah menjadi jahilan yang menyakitkan. Ia sering dipermalukan di depan banyak orang. Ia ingin melawan, tetapi tidak berani karena merasa sendirian.
Akhirnya, ia memilih diam, memendam semuanya sendiri, dan menangis tanpa ada yang tahu.
Puncak dari perundungan itu terjadi saat kegiatan muhadaroh di sekolah.Ketika suasana sedang serius, beberapa temannya kembali mengganggunya.
Tekanan yang selama ini ia simpan akhirnya tidak sanggup lagi ia tahan. Tubuhnya lemas, pandangannya gelap, hingga akhirnya ia pingsan dan dibawa ke UKS.
Kejadian itu membuat pihak sekolah turun tangan. Guru BK memanggil dan menghukum siswa-siswa yang membullynya. Ia juga diberi nasihat agar berani membela diri jika kejadian serupa terulang kembali.
Sejak saat itu, perlahan sikapnya mulai berubah. Ia belajar lebih berani dan tegas. Jika ada yang mencoba merendahkannya, ia tidak lagi hanya diam. Ia mulai berani berbicara dan menunjukkan bahwa dirinya juga pantas dihargai.
Sikap itu membuat teman-teman yang dulu sering membullynya mulai menjauh, dan hari-harinya di sekolah terasa lebih tenang.
Namun, cobaan yang lebih berat justru datang dari rumah.Ibunya jatuh sakit dan tidak lagi bisa bekerja seperti biasanya. Padahal, sejak orang tuanya bercerai saat ia masih bayi, ibunyalah satu-satunya tulang punggung keluarga.
Melihat ibunya terbaring lemah membuat hatinya sangat sedih dan takut kehilangan satu-satunya orang tua yang ia miliki.
Di tengah kondisi itu, keinginannya untuk kuliah justru tidak mendapat dukungan dari keluarga besar. Kakak dari ibunya sering berkata bahwa kuliah hanyalah mimpi yang terlalu tinggi untuk kondisi mereka.
Kata-kata itu sering membuat semangatnya runtuh dan membuatnya ragu pada dirinya sendiri. Ia merasa seolah mimpinya dipatahkan bahkan sebelum sempat ia perjuangkan sepenuhnya.
Namun, di saat hampir menyerah, ia justru mendapatkan semangat dari orang yang tidak ia sangka-sangka. Seorang tetangganya sering menyemangatinya dan meyakinkannya bahwa mimpi kuliah itu masih mungkin diraih.
Tetangga tersebut kebetulan adalah seorang dosen di UNDARI. Dosen itulah yang kemudian membimbingnya, memberinya arahan, dan membantu mencarikan jalan agar ia bisa melanjutkan pendidikan.
Dengan bantuan dan bimbingan tetangganya itu, ia akhirnya mendapatkan informasi tentang beasiswa.
Dosen tersebut ikut membantu dan mengarahkan proses pendaftaran hingga akhirnya ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah.
Bagi dirinya, bantuan itu seperti cahaya di tengah keadaan yang sangat gelap.Setiap hari, di sela-sela kesibukannya merawat ibunya, ia tetap berusaha belajar dan mempersiapkan masa depan.
Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia memastikan ibunya sudah makan dan minum obat. Sepulang sekolah, ia membantu pekerjaan rumah.
Malam hari, saat ibunya tertidur, barulah ia belajar meski tubuhnya sudah sangat lelah.
Pengalaman dibully, hidup tanpa ayah sejak bayi, tidak mendapat dukungan dari keluarga, serta kondisi ibunya yang sakit membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat.
Ia tidak lagi mudah menyerah.Ia belajar bahwa dukungan bisa datang dari siapa saja, bahkan dari orang di luar keluarga. Baginya, kuliah bukan hanya soal gelar.
Kuliah adalah cara untuk membalas pengorbanan ibunya, membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi, dan menunjukkan bahwa anak sederhana pun bisa bangkit jika mau berusaha.
Ia percaya, selama ia tidak menyerah, suatu hari nanti ia akan benar-benar sampai pada mimpinya dan membuat ibunya bangga.