Oleh: Hairin Dwi Ariyanti Mahasiswa Prodi S-1 Kebidanan FIKES UNDHARI

Mahasiswa Prodi S-1 Kebidanan FIKES UNDHARI
Seragam putih yang dikenakan oleh mahasiswa kebidanan sering kali dipandang sebagai simbol kerapian, kesucian, dan profesionalisme.
Namun, di balik seragam putih tersebut tersimpan cerita perjuangan, pengorbanan, serta proses panjang yang menguji batas fisik dan mental mahasiswa kebidanan.
Pendidikan kebidanan bukan sekadar proses akademik, melainkan perjalanan pembentukan karakter dan tanggung jawab kemanusiaan.
Pendidikan kebidanan menuntut kedisiplinan yang tinggi. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori di ruang kelas, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung dalam praktik klinik dan lapangan.
Jam praktik yang panjang, jadwal yang padat, serta tuntutan ketelitian sering kali membuat mahasiswa berada pada titik kelelahan, baik secara fisik maupun emosional.
Di sinilah pendidikan kebidanan benar-benar menguji batas diri.
Menurut saya, tantangan terbesar dalam pendidikan kebidanan adalah kemampuan untuk tetap bertahan dan profesional di tengah tekanan.
Mahasiswa kebidanan harus mampu mengelola emosi ketika menghadapi pasien, keluarga pasien, maupun situasi darurat yang tidak dapat diprediksi.
Seragam putih yang dikenakan menjadi pengingat bahwa setiap tindakan yang dilakukan membawa tanggung jawab besar terhadap keselamatan ibu dan bayi.
Selain tekanan akademik dan praktik, pendidikan kebidanan juga menuntut kekuatan mental yang tidak sedikit.
Mahasiswa sering dihadapkan pada realitas kehidupan yang sesungguhnya, seperti proses persalinan dengan risiko tinggi, kondisi ibu yang membutuhkan perhatian khusus, hingga situasi kehilangan.
Pengalaman-pengalaman tersebut kerap meninggalkan kesan mendalam yang menguras emosi, namun sekaligus membentuk empati dan kepekaan sosial.
Di sisi lain, pendidikan kebidanan memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga. Mahasiswa dilatih untuk disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama.
Setiap tantangan yang dihadapi menjadi bagian dari proses pendewasaan diri dan pembentukan jati diri sebagai calon bidan profesional.
Prodi S-1 Kebidanan FIKES UNDHARI
Peran dosen dan pembimbing klinik sangat penting dalam mendampingi mahasiswa melalui proses ini.
Pendekatan yang manusiawi, dukungan moral, serta lingkungan belajar yang sehat dapat membantu mahasiswa menghadapi tekanan pendidikan kebidanan dengan lebih baik.
Pendidikan yang tidak hanya menekankan kompetensi, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental mahasiswa, perlu menjadi perhatian bersama.
Saya berpendapat bahwa seragam putih bukan sekadar pakaian praktik, melainkan simbol perjuangan dan pengabdian.
Di balik seragam putih yang dikenakan, terdapat proses panjang yang menguji batas diri, menguatkan mental, dan menanamkan nilai kemanusiaan.
Pendidikan kebidanan mengajarkan bahwa menjadi bidan bukan hanya tentang keterampilan medis, tetapi juga tentang ketulusan, empati, dan tanggung jawab moral.
Ke depan, tantangan dalam pendidikan kebidanan akan semakin kompleks. Namun, dengan kesiapan mental, dukungan lingkungan pendidikan, serta kesadaran akan makna pengabdian, mahasiswa kebidanan mampu melewati setiap ujian yang ada.
Pada akhirnya, semua proses tersebut akan terbayar ketika seragam putih tidak lagi sekadar dikenakan, tetapi benar-benar mencerminkan jati diri seorang bidan profesional.