Oleh : Apria Rosalina Mahasiswa S1 Kebidanan Universitas Dharmas Indonesia

Bayangkan sebuah dunia di mana penisilin hanyalah kenangan manis, dan infeksi tenggorokan kembali menjadi pembunuh massal.

Beberapa tahun belakangan saat COVID-19 menyebar, dunia seakan beristirahat dari segala hal secara bersamaan. Sekolah ditutup, rumah sakit penuh, dan setiap orang menanti kabar terbaru dengan gelisah.

Pandemi itu terasa oleh semua orang dan dunia baru saja melewatinya, Namun di balik keriuhan pemulihan global, tanpa kita sadari terdapat ancaman yang jauh lebih berbahaya sedang merayap dengan sunyi didalam botol-botol obat kita.

Inilah Resistensi Antimikroba (AMR) kondisi dimana mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit) menjadi kebal terhadap obat-obatan yang tadinya efektif, sehingga infeksi menjadi lebih sulit diobati dan bisa menyebabkan kematian.

Dibalik istilah ilmiah yang terdengar jauh, bayangkan seorang pasien meninggal bukan karena penyakitnya yang langka, melainkan infeksi kecil yang dulu mudah disembuhkan.

Dokter telah memberikan obat terbaik, tetapi antibiotik itu tak lagi dapat bekerja. Bukan karena dokternya salah, melainkan karena bakteri telah kebal.

Disitulah AMR menunjukkan taringnya yang paling tajam dengan tidak merobohkan kesehatan secara tiba-tiba, tetapi menghancurkan keyakinan kita terhadap setiap sakit pasti ada obatnya.

Sejak lebih dari 70 tahun yang lalu, antibiotik dianggap sebagai anugerah bagi dunia kesehatan.

Ia mengubah sejarah dalam kehidupan manusia, menurunkan angka kematian dan kesakitan secara drastis (Desrini, 2015) akibat Infeksi bakteri Mycobakterium dan Staphylococcus.

Seperti Operasi-operasi rumit yang dulunya mustahil untuk dilakukan karena risiko infeksi yang fatal, kini menjadi prosedur rutin berkat perlindungan antibiotik paska-operasi.

Namun, keberhasilan besar ini memunculkan persepsi yang keliru secara luas. Kita tumbuh menjadi masyarakat yang percaya bahwa kesehatan dapat dibeli dengan cepat, mudah, murah, dan instan.

Di Indonesia, antibiotik sering dibeli tanpa resep, mengapa itu bisa terjadi? Selain karena pengawasan terhadap apotek belum sepenuhnya ketat salah satu penyebabnya adalah self-diagnosis yang dilakukan masyarakat tanpa mengetahui tata penggunaannya yang benar.

Tentu niatnya sederhana “ingin segera pulih”, tetapi dari kebiasaan inilah masalah besar akan muncul.

Pada hakikatnya bakteri bukan monster jahat yang berniat mencelakai manusia, melainkan Mereka hanyalah organisme kecil yang hanya ingin bertahan hidup.

Mereka adalah pejuang kehidupan yang tangguh. Anggita dkk. (2022) menjelaskan secara mendalam bahwa antibiotik bekerja dengan mekanisme yang spesifik, seperti menargetkan dinding sel bakteri agar pecah atau menghambat pembentukan protein di dalam sel mereka untuk menghentikan replikasi.

Namun, bakteri memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi. Perspektif yang perlu kita tanamkan adalah, setiap kali kita menggunakan antibiotik dengan dosis yangsalah atau tidak menghabiskan durasi pengobatan karena merasa “sudah baikan”, kita sebenarnya sedang melakukan kesalahan fatal.

Kondisi tersebut tidak membunuh bakteri secara tuntas, melainkan justru “melatih” mereka. Seperti gembok yang diperkuat setelah seseorang mencoba membobolnya dengan kunci yang salah, bakteri membangun benteng pertahanan atau melakukan mutasi genetik untuk menangkal serangan obat di masa depan.

Dalam bahasa yang lebih lugas, perilaku meminum antibiotik yang tidak tuntas adalah proses “menyekolahkan” bakteri agar mereka dapat berevolusi menjadi pembunuh yang lebih efisien dan kebal terhadap senjata medis kita.

Ancaman ini bukanlah sekadar teori konspirasi medis yang dilakukan oleh oknum pencari keuntungan atau hanya ketakutan yang dilebih-lebihkan saja.

Angka-angka statistik itu sudah memberi peringatan dengan keras.Merujuk pada data yang dipaparkan Desrini (2015), setiap tahunnya ditemukan sekitar 440.000 kasus baru TB-MDR (Tuberculosis Multi-Drug Resistance) di dunia, yang mengakibatkan 150.000 kematian global.

Di benua Eropa yang memiliki sistem kesehatan maju sekalipun, 25.000 orang kehilangan nyawa setiap tahun akibat infeksi bakteri multiresisten.

Jika kita membandingkannya dengan pandemi virus seperti COVID-19, tantangan AMR jauh lebih rumit. Virus bisa dilawan dengan pengembangan vaksin yang cepat, namun bakteri yang telah resisten menciptakan realitas dunia yang jauh lebih kejam.

Bayangkan sebuah masa depan di mana prosedur medis sederhana seperti operasi caesar, kemoterapi untuk pasien kanker, hingga pencabutan gigi sederhana berubah menjadi pertaruhan antara hidup dan mati karena risiko infeksi di rumah sakit yang tidak lagi bisa diobati.

Berbagai kajian bahkan telah memperingatkan bahwa jika hal ini terus berlanjut, kematian akibat AMR diprediksi akan melampaui kematian akibat kanker pada tahun 2050.

Di tengah kegelapan ancaman ini, jalan keluarnya sebenarnya tidak rumit, tetapi menuntut kedewasaan dari semua pihak melalui penerapan “Pengobatan Rasional”.

Desrini (2015) menekankan bahwa setiap pemberian antibiotik harus mematuhi prinsip “4 Tepat”: Tepat obat, tepat dosis, tepat durasi, dan dengan harga yang tetap terjangkau.Hal ini bukan sekadar tugas teknis tenaga medis, melainkan kewajiban moral kita sebagai pasien.

Lebih jauh lagi, kita membutuhkan sebuah kontrak sosial baru dalam memandang obat-obatan.Kita harus berhenti melihat antibiotik sebagai hak konsumen yang bisa dipesan sesuai keinginan, dan mulai melihatnya sebagai amanah bersama sebagai titipan bagi generasi masa depan.

Menjaga efektivitas antibiotik saat ini sama pentingnya dengan menjaga kelestarian sumber daya alam, sekali ia habis atau rusak, tidak ada teknologi yang bisa dengan mudah menggantikannya dalam waktu singkat.

Pada akhirnya, Resistensi Antimikroba adalah cerminan dari perilaku manusia modern. Ia adalah pandemi yang jauh lebih mematikan karena ia merenggut harapan terakhir kita pada sains farmakologi.

AMR adalah pengingat pahit bahwa ketidaksabaran dan egoisme kita dalam mencari kesembuhan instan telah berbalik menjadi senjata yang mengancam keberlangsungan hidup kita sendiri.

Mungkin kita tidak membutuhkan pembatasan sosial besar-besaran seperti saat COVID-19 melanda untuk melawan pandemi ini.

Kita hanya butuh kesadaran bahwa senjata terakhir kita sedang menumpul justru di tangan kita sendiri.

Jangan sampai egoisme hari ini membuat kita membiarkan anak cucu kita nantinya hidup di dunia yang sunyi dan menakutkan, di mana sebuah goresan kecil di kulit kembali menjadi vonis mati karena kita telah menghabiskan “kesaktian” obat-obatan mereka di masa lalu demi kenyamanan sesaat.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version