Oleh: Reisya Septi AmeliaMahasiswa Prodi S-1 Keperawatan FIKES UNDHARI

Di lingkungan mahasiswa, termasuk di Universitas Dharmas Indonesia (UNDHARI), begadang sering kali dianggap sebagai hal yang lumrah. Tugas kuliah, aktivitas organisasi, tanggung jawab sosial, hingga penggunaan gawai membuat waktu tidur kerap dikorbankan.

Tidak sedikit mahasiswa yang merasa bahwa tidur larut adalah konsekuensi dari kehidupan akademik yang dinamis. Namun, kebiasaan ini patut dikaji ulang karena dampaknya tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat secara luas.

Sebagai mahasiswa UNDHARI, penulis melihat bahwa kurang tidur telah menjadi persoalan yang sering diabaikan. Banyak mahasiswa menjalani hari dengan kondisi fisik lelah dan konsentrasi yang menurun.

Situasi ini sering dianggap biasa, padahal kurang tidur secara terus-menerus dapat mengganggu proses belajar dan kualitas berpikir kritis. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia yang seharusnya menjadi aset utama pembangunan.

Tidur sejatinya merupakan kebutuhan biologis yang tidak dapat digantikan. Saat tidur, tubuh melakukan pemulihan fisik, sementara otak memproses informasi dan memperkuat daya ingat.

Kurangnya waktu tidur dapat menyebabkan gangguan konsentrasi, menurunnya daya tahan tubuh, serta ketidakstabilan emosi.

Dari sudut pandang mahasiswa, kondisi ini jelas merugikan karena berdampak langsung pada prestasi akademik dan kesehatan mental.

Perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor utama rusaknya jam tidur mahasiswa. Di lingkungan kampus UNDHARI, penggunaan ponsel pintar dan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa kerap menghabiskan waktu hingga larut malam untuk berselancar di media sosial, menonton konten digital, atau mengerjakan tugas daring. Tanpa disadari, kebiasaan ini mengganggu jam biologis tubuh dan menurunkan kualitas tidur.

Oleh karena itu, literasi digital perlu dimaknai tidak hanya sebagai kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan mengontrol penggunaannya secara bijak.

Selain itu, budaya akademik yang menormalisasi begadang juga perlu mendapat perhatian. Masih ada anggapan bahwa mahasiswa yang sering begadang adalah mahasiswa yang rajin dan berdedikasi.

Pandangan ini seharusnya diluruskan.Produktivitas tidak diukur dari lamanya waktu terjaga, melainkan dari kualitas hasil kerja dan kesehatan individu.

Mahasiswa dengan jam tidur yang teratur justru cenderung lebih fokus, mampu mengelola stres, dan memiliki performa akademik yang lebih baik.

Dari perspektif mahasiswa UNDHARI, memperbaiki jam tidur bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga bagian dari upaya menciptakan lingkungan akademik yang sehat.

Mahasiswa sebagai generasi muda memiliki peran penting dalam membangun kesadaran akan pentingnya tidur yang cukup. Jika kebiasaan kurang tidur terus dibiarkan, maka dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga di masa depan ketika mahasiswa memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.

Langkah untuk memperbaiki jam tidur sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Mahasiswa dapat mengatur jadwal belajar yang lebih terencana, membatasi penggunaan gawai sebelum tidur, serta membiasakan tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari.

Disiplin terhadap waktu istirahat memang menantang, tetapi manfaatnya sangat besar bagi kesehatan fisik dan mental. Di sisi lain, institusi pendidikan seperti UNDHARI juga memiliki peran strategis.

Kampus diharapkan tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan mahasiswa.

Edukasi mengenai pentingnya pola hidup sehat, pengelolaan beban akademik yang seimbang, serta budaya kampus yang menghargai waktu istirahat perlu terus dikembangkan.

Dengan dukungan lingkungan kampus, mahasiswa akan lebih mudah menerapkan pola tidur yang sehat.

Sebagai penutup, memperbaiki jam tidur demi kesehatan masyarakat merupakan isu penting yang perlu mendapat perhatian serius, khususnya di kalangan mahasiswa UNDHARI.

Kesadaran untuk tidur cukup dan teratur adalah langkah awal dalam membangun generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing.

Jika mahasiswa mampu memulai perubahan dari dirinya sendiri, maka kampus dapat menjadi ruang tumbuhnya budaya hidup sehat yang memberi dampak positif bagi masyarakat secara luas.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version