Oleh: Zaharani Widarta Mahasiswa Prodi S-1 Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI

Mahasiswa Prodi S-1 Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Meningkatkan keterampilan literasi pada siswa di era informasi adalah investasi masa depan yang krusial untuk membekali mereka menghadapi kompleksitas dunia, memanfaatkan teknologi secara positif, dan menjadi generasi yang berdaya saing, inovatif, cerdas, kritis, adaptif, dan bertanggung jawab di masa depan, serta berkontribusi bagi masyarakat.
Meningkatkan keterampilan literasi pada siswa di era informasi memerlukan pergeseran paradigma dari sekadar “bisa membaca” menjadi “mampu mengolah informasi secara kritis”.
Di tengah banjir data dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), literasi adalah fondasi utama agar siswa tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga pengguna informasi yang bijak.
Dunia pendidikan di tahun 2025 berada pada titik persimpangan yang krusial. Kita tidak lagi hidup dalam era di mana informasi adalah barang langka yang hanya bisa ditemukan di perpustakaan fisik atau buku teks tebal.
Sebaliknya, kita berada dalam era “banjir informasi”, di mana data mengalir tanpa henti melalui gawai di saku setiap siswa. Namun, paradoks muncul: meski akses terhadap tulisan meningkat tajam, kualitas literasi siswa justru menghadapi tantangan yang lebih berat.
Meningkatkan keterampilan literasi pada siswa saat ini bukan lagi sekadar urusan memberantas buta aksara, melainkan membangun benteng pertahanan intelektual di tengah arus disinformasi.Secara tradisional, literasi didefinisikan sebagai kemampuan membaca dan menulis.
Namun, di era informasi yang didominasi oleh algoritma dan kecerdasan buatan (AI), definisi tersebut telah berkembang menjadi literasi informasi dan literasi digital.
Siswa saat ini dituntut untuk tidak hanya bisa menyerap teks, tetapi juga mampu melakukan navigasi, evaluasi, dan sintesis terhadap berbagai jenis informasi yang mereka temui.
Literasi hari ini adalah tentang kemampuan berpikir kritis sebuah “kompas” yang memungkinkan siswa membedakan antara fakta objektif, opini yang bias, dan hoaks yang dirancang secara manipulatif.
Salah satu tantangan terbesar dalam meningkatkan literasi adalah fenomena shallow reading atau membaca dangkal. Di media sosial, siswa terbiasa membaca potongan informasi singkat, judul berita yang bombastis (clickbait), atau rangkuman instan.
Hal ini mengikis kemampuan deep reading (membaca mendalam), yaitu proses kognitif yang melibatkan analisis kompleks, refleksi, dan empati.
Tanpa kemampuan membaca mendalam, siswa akan kehilangan kapasitas untuk memahami argumen yang panjang dan nuansa yang halus dalam sebuah kebijakan atau karya sastra.
Oleh karena itu, sekolah harus kembali memprioritaskan waktu khusus untuk membaca tanpa gangguan (digital detox) sebagai upaya melatih kembali daya fokus siswa.
Selanjutnya, integrasi teknologi dalam literasi harus dipandang sebagai alat bantu yang perlu dikuasai. Kehadiran AI generatif seperti ChatGPT atau Gemini memberikan tantangan dan peluang.
Jika siswa menggunakan AI hanya untuk menyelesaikan tugas secara instan, literasi mereka dapat terhambat. Namun, jika guru mengajarkan cara berinteraksi dengan AI, teknologi ini dapat memperkuat literasi kritis siswa.
Literasi digital berarti memahami cara kerja algoritma dan menyadari bahwa informasi di media sosial mungkin terbatas. Selain peran sekolah, lingkungan keluarga juga penting. Literasi dimulai dari percakapan sehari-hari.
Ketika orang tua mendiskusikan berita atau buku, anak-anak belajar bahwa informasi perlu diolah. Budaya literasi tidak bisa dipaksakan melalui kurikulum; ia harus dikembangkan melalui lingkungan yang menghargai rasa ingin tahu.
Perpustakaan sekolah harus berubah menjadi pusat literasi multimedia yang memfasilitasi pembuatan konten kreatif, seperti blog atau esai digital. Hal ini mendorong siswa menjadi produsen informasi yang bertanggung jawab.
Lebih jauh lagi, literasi memiliki dimensi moral dan sosial. Siswa yang literat akan menjadi warga negara yang lebih baik. Mereka tidak akan mudah terpengaruh oleh narasi kebencian.
Mereka akan memiliki empati karena terbiasa membaca berbagai perspektif. Dalam konteks global, literasi adalah kunci untuk mencapai keadilan sosial.
Kesimpulannya, meningkatkan keterampilan literasi pada siswa memerlukan pendekatan yang holistik dan progresif. Literasi bukan hanya tentang “apa” yang dibaca, tapi “bagaimana” kita membacanya.
Jika siswa memiliki keterampilan literasi yang kuat, hal ini tidak hanya akan menyelamatkan masa depan pendidikan mereka, tetapi juga menjaga kewarasan publik. Di masa mendatang, menjadi literat berarti Merdeka merdeka dari manipulasi dan kebodohan, serta merdeka dalam menentukan kebenaran.
Adapun strategi konkret untuk meningkatkan keterampilan literasi siswa di era saat ini:
1. Transformasi ke Literasi Digital dan MediaSiswa harus dibekali kemampuan untuk menavigasi ekosistem informasi yang kompleks.
Verifikasi Sumber: Mengajarkan teknik lateral reading (membuka tab baru untuk mengecek kredibilitas sumber) daripada hanya membaca apa yang ada di depan mata.
Deteksi Disinformasi: Melatih siswa mengenali ciri-ciri hoaks, bias algoritma, dan konten hasil rekayasa AI (deepfake).Etika Digital: Memahami konsekuensi dari berbagi informasi dan pentingnya menjaga integritas digital.
2. Penguatan Kemampuan Berpikir Kritis (Critical Thinking) Literasi bukan lagi tentang menghafal teks, melainkan menganalisisnya. Analisis Argumen: Siswa diajak untuk mempertanyakan tujuan penulis, sudut pandang yang hilang, dan bukti yang mendukung sebuah klaim.Sintesis Informasi: Melatih siswa untuk mengambil informasi dari berbagai format (video, teks, infografis) dan menyusunnya menjadi satu pemahaman yang utuh.
3. Pemanfaatan Teknologi sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Di era 2025, teknologi seperti AI harus diintegrasikan secara cerdas dalam pembelajaran literasi.
AI sebagai Mitra Diskusi: Menggunakan alat bantu seperti Google Gemini atau ChatGPT untuk merangkum teks panjang, lalu meminta siswa untuk mengevaluasi akurasi rangkuman tersebut.
Platform Literasi Interaktif: Memanfaatkan perpustakaan digital dan platform seperti LiteracyCloud yang menyediakan akses bacaan berkualitas secara gratis dan menarik.
4. Menumbuhkan Budaya Membaca yang Relevan dan Menyenangkan Minat baca sulit tumbuh jika materi yang diberikan terasa asing atau membosankan.
Pilihan Bacaan Bebas: Memberikan kebebasan bagi siswa untuk memilih topik yang mereka sukai (teknologi, seni, olahraga) untuk melatih konsentrasi membaca mendalam (deep reading).
Diskusi Literasi: Mengganti tugas merangkum yang monoton dengan sesi diskusi kelompok atau pembuatan proyek kreatif (seperti video ulasan buku atau podcast).
5. Kolaborasi Sekolah dan KeluargaLiterasi adalah tanggung jawab kolektif.Program Sekolah: Menyediakan waktu khusus “Membaca Senyap” (SSR – Sustained Silent Reading) setiap hari sebelum pelajaran dimulai.
Peran Orang Tua: Mendorong orang tua untuk menciptakan lingkungan rumah yang kaya literasi, di mana diskusi tentang berita atau buku menjadi hal yang lumrah.
Kesimpulan:
Meningkatkan literasi di era informasi berarti memberikan “kompas” kepada siswa agar tidak tersesat dalam kebisingan digital. Fokusnya adalah pada kualitas pemahaman, bukan kuantitas bacaan.
Dengan literasi yang kuat, siswa akan memiliki ketahanan mental untuk menghadapi tantangan masa depan yang semakin berbasis data.