Oleh: Yeni Diah Sari Mahasiswa Prodi S-1 Manajemen FHEB UNDHARI

Menjaga toleransi di tengah perbedaan bukan sekadar etika sosial, melainkan fondasi utama agar sebuah bangsa—terutama yang majemuk seperti Indonesia—tidak runtuh.

Toleransi adalah “lem” yang merekatkan berbagai elemen yang berbeda agar tetap menjadi satu kesatuan yang utuh.Berikut adalah beberapa opini kuat mengapa menjaga toleransi itu sangat krusial.

Tanpa toleransi, perbedaan (baik agama, suku, maupun ras) sangat mudah dipicu menjadi konflik. Ketegangan yang berujung pada kekerasan sering kali berawal dari rasa tidak menghargai identitas orang lain.

Toleransi berfungsi sebagai peredam benturan agar gesekan sosial tidak berubah menjadi api permusuhan. Negara yang damai adalah negara yang stabil.

Ketika masyarakatnya saling menghormati, pemerintah dapat fokus pada pembangunan ekonomi dan infrastruktur tanpa harus terbebani oleh masalah keamanan internal akibat isu SARA.

Stabilitas adalah prasyarat kemajuan. Perbedaan sebenarnya adalah aset. Ketika kita bertoleransi, kita membuka ruang untuk berkolaborasi dengan orang-orang yang memiliki sudut pandang berbeda.

Keberagaman ide inilah yang sering kali melahirkan inovasi dan kreativitas yang tidak mungkin muncul dalam kelompok yang seragam (homogen). Setiap individu memiliki hak dasar untuk hidup, berkeyakinan, dan mengekspresikan jati dirinya.

Menjaga toleransi berarti kita mengakui dan menghormati hak-hak tersebut. Dengan bersikap toleran, kita sedang menjaga martabat kemanusiaan itu sendiri.

Penting untuk dipahami bahwa toleransi tidak berarti kita harus setuju dengan semua pendapat orang lain atau mengorbankan prinsip pribadi.Sifat Menghargai keberadaan perbedaan.

Mengubah posisi/prinsip untuk mencapai kesepakatan. Intinya: Toleransi bukan tentang meniadakan perbedaan, melainkan tentang bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut dengan kedewasaan.

Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, kemampuan untuk menerima bahwa orang lain boleh “berbeda” adalah bentuk kecerdasan emosional yang paling tinggi.

Tentu, mari kita pertajam pembahasan ini dengan menambahkan sudut pandang pribadi (sebagai perspektif analitis) dan argumen pendukung yang lebih mendalam:Dari kacamata saya, toleransi adalah bentuk tertinggi dari kecerdasan intelektual dan emosional.

Seringkali orang salah mengartikan toleransi sebagai sikap “pasif” atau sekadar mendiamkan perbedaan.Padahal, toleransi yang sesungguhnya adalah sikap aktif.

Saya melihat toleransi bukan sebagai tanda bahwa kita tidak punya prinsip, melainkan tanda bahwa kita cukup percaya diri dengan prinsip kita sehingga tidak merasa terancam oleh prinsip orang lain.

Didunia yang semakin terhubung secara digital namun terkotak-kotak secara ideologi (fenomena echo chamber), toleransi adalah satu-satunya alat navigasi agar kita tidak terjebak dalam fanatisme buta yang merugikan diri sendiri.

Masyarakat yang toleran cenderung lebih makmur. Mengapa? Karena toleransi menurunkan biaya keamanan dan konflik. Ketika sebuah lingkungan inklusif, investasi akan masuk, talenta terbaik dari berbagai latar belakang mau bekerja di sana, dan kolaborasi ekonomi berjalan tanpa hambatan prasangka.

Keberagaman yang dikelola dengan toleransi adalah mesin pertumbuhan ekonomi. Hidup dalam kebencian atau ketakutan terhadap “yang berbeda” sangatlah melelahkan secara mental.

Prasangka menciptakan stres sosial.Dengan mengadopsi sikap toleran, kita membebaskan diri dari beban emosional untuk selalu memusuhi atau mencurigai orang lain. Ini menciptakan kualitas hidup yang lebih baik secara individu maupun kolektif.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version