Oleh: Selvia Marniwati WaheloMahasiswa Prodi S-1 Kebidanan FIKES UNDHARI

Tak jarang setiap individu terjebak oleh pemikirannya sendiri bahwa kesuksesan harus berasal dari faktor luar selain diri sendiri seperti dorongan keluarga, ekonomi, lingkungan sosial, bahkan tak terlepas dari keberuntungan yang mungkin tak akan kunjung datang.

Akan tetapi, jika kita memandang pencapaian orang-orang sekitar kita, kita akan menemukan satu hal yang menjadi dorongan utama bagi mereka, yaitu pola pikir (mindset) individu tersebut.

Pola pikir bukan hanya sekedar bagaimana cara kita berpikir, tetapi mindset yang open-minded akan mengarahkan kita untuk menjalankan seluruh tindakan, keputusan, dan reaksi kita terhadap suatu hal dengan tepat dan benar.

Gagasan adalah benih realita. Kita sering mendengar bahwa pikiran kita adalah cerminan diri sendiri.

Hal ini bukan hanya sekedar kalimat yang terangkai dari kata akademik, melainkan sebuah realitas psikologis.

Pola pikir yang baik akan menjadi sumber utama untuk menentukan bagaimana cara kita melihat, menanggapi, dan meresponi tantangan dan peluang yang baik pula.

Masa depan dan harapan tidak akan tercapai begitu saja secara tiba-tiba; masa depan akan terealisasi dengan melalui berbagai tantangan dan ribuan keputusan kecil yang harus kita buat di setiap tantangan yang ada, yang dimana, keputusan tersebut lahir dari cara kita memandang diri sendiri dan dunia.

Jika seseorang memilih untuk mempertahankan mindsetnya yang terbatas, maka secara terus-menerus hal itu akan menjadi tembok yang membatasinya untuk setiap tindakan yang seharusnya dilakukan.

Namun sebaliknya, jika seorang individu bertekad untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya dengan pola pikir yang tepat, maka ia akan mendapat berbagai macam peluang dan kesempatan atau setidaknya mampu menghadapi tantangan yang ada dan mampu beradaptasi dengan risiko yang sedikit.

Itulah sebabnya mengapa pola pikir disebut sebagai dasar penentu masa depan setiap individu, karena pola pikir akan menjadi penetap dan penentu batas dari potensi yang seharusnya kita raih, terlepas dari privilege yang ada.

Bagaimana pola pikir (Mindset) mempengaruhi rantai kejadian masa depan?Untuk memahami konteks tersebut, kita harus mampu melihat mekanisme “Rantai Kualitas” ini, yaitu:

  1. Pola pikir yang mempengaruhi persepsi; di saat ekonomi sedang dalam keadaan krisis, individu yang berpola pikir negatif menganggap hal itu sebagai kebangkrutan, tetapi seseorang yang berpikir progresif justru melihat peluang untuk inovasi dan efisiensi;
  2. Persepsi mempengaruhi keputusan; seperti mengambil keputusan untuk mempelajari suatu hal dan keterampilan baru, berinvestasi, atau membangun relasi yang menguntungkan;
  3. Keputusan mempengaruhi tindakan; bertindak secara konsisten akan menjadi kebiasaan jika tertanam dalam benak seseorang “saya harus mampu menjadi lebih baik setiap hari” maka tindakan yang dilakukan akan tercermin dari keputusan dan kedisiplinan yang tinggi; dan
  4. Tindakan menentukan nasib; masa depan (nasib) hanyalah istilah lain dari “hasil jangka panjang dari kebiasaan, kedisiplinan, dan konsistensi seseorang”.

Peran Pola Pikir di Era DisrupsiPada abad ke-21 penuh dengan ketidakpastian (VUCA: Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang menjadikan pola pikir sebagai aset yang jauh lebih berharga daripada gelar akademis semata.

Teknologi yang berubah-ubah, industri yang hilang dan tumbuh, namun individu yang mempunyai pola pikir yang tepat akan tetap relevan di berbagai keadaan apapun.

Pola pikir “Pembelajar Sepanjang Hayat” (Lifelong Learner) adalah perkembangan pola pikir yang sangat dibutuhkan di era teknologi yang berkembang secara pesat saat ini.

Individu-individu yang mempunyai masa depan cerah adalah mereka yang mengetahui dan menyadari bahwa segala yang diketahui saat ini tak selamanya akan sama, dan mereka berusaha memampukan diri untuk unlearn (meninggalkan ilmu lama) dan relearn (mempelajari/mengeksplor hal baru) sebagai kunci navigasi masa depan.

Langkah-langkah untuk mentransformasi mindset. Jika pola pikir menjadi dasar penentu masa depan, apakah kita bisa mengubahnya? Pastinya kita bisa mengubahnya.

Neuroplastisitas otak memungkinkan kita untuk memprogram ulang cara kita berpikir:

  1. Mengidentifikasi dialog internal: mulai mencoba mendengar suara kepala, apakah suara tersebut menyemangati atau justru menjatuhkan, dengan mengganti kalimat “ini terlalu sulit” menjadi “ini membutuhkan usaha yang lebih”;
  2. Mengevaluasi lingkungan sosial: memperhatikan visi dan ambisi orang-orang sekitar, bahkan hal terkecil pun seperti topik pembicaraan dan bagaimana reaksi/tanggapan mereka terhadap pencapaianmu;
  3. Keluar dari zona nyaman sebagai cara untuk melatih diri dalam belajar, melakukan sesuatu yang dianggap menakutkan dan sulit untuk memperluas kapasitas mental dalam menghadapi hal-hal yang tidak pasti di masa mendatang;
  4. Fokus pada proses, bukan hasil: tidak terobsesi pada tujuan akhir hingga lupa menghargai kemajuan kecil; dan
  5. Belajar untuk memperbaiki paradigma tentang tujuan di masa depan.Kesimpulannya, pola pikir adalah ramalan yang jelas untuk mewujudkan diri sendiri (self-fulfilling prophecy).

Jika kita berpikir bahwa kita bisa, maka semuanya bisa dilakukan dan begitu pun sebaliknya.

Masa depan adalah sebuah harapan yang saat ini sedang digumuli oleh masing-masing individu dengan menciptakan suatu tindakan yang jelas dari berbagai hasil pikiran/gagasan bahkan imajinasi yang membuat seseorang bertekad untuk rela keluar dari zona nyaman dan mampu beradaptasi dengan keadaan yang penuh tantangan dan dipenuhi dengan berbagai macam ambisi di sekitar kita.

Individu yang mempunyai pola pikir yang terbuka tidak akan lengah dalam kondisi apapun dan tidak akan pernah membirkan orang lain mengendalikannya, karena baginya yang memegang kemudi hidupnya adalah dirinya sendiri.

Mereka akan terus belajar, bertumbuh, beradaptasi karena mereka yakin bahwa tiada usaha yang menghianati hasil.

Dengan niat dan totalitas yang ada, mereka menjadikan hal itu sebagai bentuk semangat tersendiri untuk menggapai segala keinginan mereka.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version