Oleh: Jenia Sasbela Puspita Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI

Ranking di sekolah sering kali dianggap sebagai ajang kompetisi yang kuat, di mana siswa berlomba-lomba untuk mendapatkan posisi teratas. Padahal, ranking bukan tentang mengalahkan orang lain, melainkan tentang menjadi tolak ukur bagi diri sendiri. Setiap siswa memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda, sehingga ranking seharusnya dipahami sebagai salah satu cara untuk melihat perkembangan akademik, bukan satu-satunya penentu keberhasilan.

Selama menjalani pendidikan, cara pandang saya terhadap ranking mengalami perubahan. Saat duduk di bangku sekolah dasar, proses belajar terasa cukup santai. Sejak kelas satu SD, saya sudah lancar membaca dibandingkan sebagian besar teman sekelas. Hampir setiap semester saya berada di peringkat tiga besar serta aktif mengikuti lomba cerdas cermat dan O2SN cabang olahraga. Pada masa itu, ranking tidak pernah menjadi tekanan, melainkan bagian dari proses belajar yang saya jalani dengan ringan.

Keadaan mulai berubah ketika saya memasuki SMP. Lingkungan belajar yang baru mempertemukan saya dengan banyak teman dari Sekolah Dasar yang berbeda. Persaingan belajar terasa lebih ketat, sementara saya mulai kurang fokus dalam mengatur cara belajar. Di kelas satu SMP, saya masih meraih peringkat dua. Namun, di kelas dua peringkat tersebut turun menjadi enam dan kembali menurun menjadi tujuh di kelas tiga. Penurunan ini membuat saya merasa kecewa dan kurang percaya diri. Orang tua saya pun terkejut melihat perubahan yang cukup drastis tersebut.

Dari pengalaman itu, saya mulai memahami bahwa terlalu fokus pada ranking dan keinginan untuk selalu menjadi juara justru dapat menimbulkan stres dan rasa gagal. Orang tua saya mengingatkan bahwa teman bukanlah lawan yang harus dikalahkan, melainkan bagian dari proses belajar. Kegagalan bukan untuk disesali, tetapi dijadikan bahan evaluasi agar dapat menjadi lebih baik. Sejak saat itu, saya mulai melihat ranking sebagai pengingat untuk memperbaiki diri, bukan sebagai alat pembanding dengan orang lain.

Memasuki jenjang SMA, saya berusaha mengubah kebiasaan belajar. Saya mulai mempelajari materi lebih awal sebelum pelajaran berlangsung dan menyiapkan rangkuman beberapa hari sebelum ujian. Dengan fokus pada proses belajar dan pengembangan diri, saya menjadi lebih mengenal kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Usaha tersebut membuahkan hasil yang positif. Sejak kelas satu SMA hingga lulus, saya mampu mempertahankan peringkat dalam tiga besar, meskipun tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi.

Melalui pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa ranking akan memberikan dampak positif jika dijadikan sebagai tolak ukur diri sendiri. Pendidikan akan berjalan lebih sehat ketika siswa diarahkan untuk fokus pada proses belajar dan pengembangan diri, bukan sekadar mengejar posisi. Dengan cara ini, siswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki kepercayaan diri serta kesiapan dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version