Oleh: Cica Haryati Mahasiswa Prodi S-1 Kebidanan FIKES UNDHARI

Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan yang semakin pesat, saya justru melihat sebuah paradoks besar: standar sehat yang terus ditinggikan diterapkan dalam dunia yang semakin tidak sehat.

Definisi “sehat” hari ini sering kali dirumuskan melalui angka, indikator biologis, dan capaian medis, sementara konteks sosial, ekonomi, lingkungan, dan psikologis tempat manusia hidup justru semakin diabaikan.

Dunia modern menawarkan fasilitas kesehatan canggih, tetapi pada saat yang sama menciptakan gaya hidup yang menjauhkan manusia dari kondisi sehat yang utuh.

Dari sinilah saya berpendapat bahwa standar sehat saat ini kerap tidak adil, tidak realistis, dan bahkan kontraproduktif, karena diterapkan dalam sistem dunia yang secara struktural tidak mendukung kesehatan manusia secara menyeluruh.

Saya memandang kesehatan bukan sekadar ketiadaan penyakit, melainkan kondisi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang saling terhubung.

Namun, standar sehat yang dominan hari ini lebih menekankan pada aspek fisik-biologis dan individual, seolah-olah kesehatan sepenuhnya merupakan tanggung jawab personal.

Padahal, manusia hidup dalam sistem yang membentuk pilihan-pilihan kesehatannya. Ketika dunia dipenuhi polusi, tekanan ekonomi, budaya kerja eksploitatif, dan arus informasi yang melelahkan secara mental, maka menuntut individu untuk selalu “sehat sempurna” adalah tuntutan yang tidak seimbang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak lama mendefinisikan sehat sebagai keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial, bukan hanya bebas dari penyakit.

Namun, dalam praktiknya, standar kesehatan sering direduksi menjadi parameter medis seperti indeks massa tubuh ideal, kadar kolesterol normal, atau tekanan darah stabil.

Standar ini penting, tetapi menjadi bermasalah ketika dilepaskan dari realitas kehidupan manusia modern yang penuh keterbatasan struktural.

Pertama, dunia kerja modern menjadi contoh nyata bagaimana sistem tidak sehat melahirkan standar sehat yang paradoksal.

Data dari International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa jam kerja panjang dan tekanan kerja berlebih berkontribusi signifikan terhadap meningkatnya penyakit kardiovaskular dan gangguan kesehatan mental.

Namun, di sisi lain, pekerja tetap dituntut untuk produktif, bugar, dan “tahan stres”.

Dalam konteks ini, kesehatan menjadi beban individual, bukan tanggung jawab sistem kerja yang manusiawi.

Ilustrasi kasus dapat dilihat pada pekerja perkotaan yang bekerja lebih dari 10 jam sehari, menghabiskan waktu berjam-jam di jalan akibat kemacetan, dan terpapar polusi udara tinggi.

Ketika individu tersebut mengalami hipertensi atau gangguan kecemasan, solusi yang sering ditawarkan adalah perubahan gaya hidup pribadi, seperti olahraga dan manajemen stres, tanpa mengubah struktur lingkungan yang menjadi penyebab utama masalah tersebut.

Standar sehat akhirnya menjadi tuntutan normatif yang sulit dicapai. Kedua, ketimpangan sosial dan ekonomi memperlihatkan bahwa standar sehat tidak berlaku secara setara.

Laporan World Bank dan WHO menunjukkan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah memiliki akses terbatas terhadap makanan bergizi, lingkungan sehat, dan layanan kesehatan berkualitas.

Namun, standar kesehatan yang digunakan tetap sama untuk semua kelompok.Saya melihat ini sebagai bentuk ketidakadilan struktural, karena kesehatan diperlakukan seolah-olah pilihan bebas, padahal sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial.

Contohnya, anjuran konsumsi makanan sehat sering kali tidak mempertimbangkan harga pangan bergizi yang relatif mahal dibandingkan makanan ultra-proses.

Ketika masyarakat kelas bawah mengalami obesitas atau diabetes, mereka kerap distigmatisasi sebagai tidak disiplin menjaga kesehatan, tanpa melihat sistem pangan global yang mendorong konsumsi makanan tidak sehat demi keuntungan industri.

Ketiga, dunia digital dan media sosial turut membentuk standar sehat yang semu dan menekan kesehatan mental. Ideal tubuh, produktivitas tanpa lelah, dan citra “hidup seimbang” yang dipromosikan secara masif menciptakan tekanan psikologis baru.

Data dari berbagai studi kesehatan mental menunjukkan peningkatan kecemasan, depresi, dan burnout, terutama pada generasi muda.

Ironisnya, standar sehat mental justru sering diukur dari kemampuan individu untuk tetap berfungsi normal dalam sistem yang menekan.

Saya melihat bahwa kesehatan mental sering kali dipahami sebagai kemampuan beradaptasi tanpa mengeluh, bukan sebagai sinyal bahwa sistem perlu diperbaiki.

Akibatnya, terapi dan pengobatan menjadi solusi individual, sementara akar masalah struktural tetap tidak tersentuh.

Pesan utama yang ingin saya tegaskan adalah bahwa standar sehat tidak dapat dilepaskan dari konteks dunia tempat manusia hidup.

Menuntut individu untuk memenuhi standar kesehatan ideal dalam dunia yang tidak sehat adalah bentuk ketimpangan dan pengalihan tanggung jawab.

Kesehatan seharusnya dipahami sebagai hasil interaksi antara individu dan sistem sosial, ekonomi, serta lingkungan.

Saya meyakini bahwa redefinisi standar sehat menjadi kebutuhan mendesak.Standar tersebut harus lebih manusiawi, kontekstual, dan berkeadilan.

Alih-alih hanya menilai kesehatan dari capaian individual, dunia perlu membangun sistem yang mendukung hidup sehat: lingkungan bersih, kerja yang layak, akses pangan bergizi, serta ruang aman bagi kesehatan mental.

Pada akhirnya, standar sehat di dunia yang tidak sehat akan selalu menghasilkan kegagalan, rasa bersalah, dan ketimpangan.

Selama dunia masih memproduksi ketidakadilan, tekanan, dan kerusakan lingkungan, maka kesehatan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada individu.

Saya percaya bahwa kesehatan sejati hanya dapat terwujud ketika standar sehat dibangun seiring dengan upaya memperbaiki dunia itu sendiri.

Tanpa itu, standar sehat hanya akan menjadi ideal normatif yang jauh dari realitas manusia.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version