
Penulis: Lupia Hawanita Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Enam tahun lalu, ketika masih menempuh pendidikan di sebuah pondok di Bukittinggi, aku mengalami satu peristiwa yang hingga kini belum mampu kulupakan. Peristiwa yang semula terasa seperti kesedihan itu ternyata menyimpan banyak pelajaran tentang keluarga, perjuangan, dan rasa syukur.
Saat itu, dunia tiba-tiba berubah karena pandemi Covid-19. Tidak ada yang menyangka bahwa sebuah wabah dapat menghentikan kegiatan belajar di sekolah. Pembelajaran yang biasanya berlangsung secara tatap muka harus dilakukan melalui telepon genggam. Kami yang tinggal di pondok pun diminta pulang ke kampung halaman masing-masing.
Aku akhirnya meninggalkan Bukittinggi dan pulang menggunakan travel. Perjalanan menuju kampung halaman di Limbur Lubuk Mengkuang, Kabupaten Bungo, terasa begitu panjang.
Selama perjalanan, pikiranku dipenuhi bayangan tentang rumah. Aku membayangkan rasanya kembali berkumpul bersama Mak, Pak, dan adik setelah sekian lama tinggal jauh dari mereka. Selama di pondok, aku hanya dapat pulang sekitar dua kali dalam setahun. Karena itu, perjalanan kali ini membawa kerinduan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Setelah sampai di Sungai Rumbai, aku melanjutkan perjalanan bersama Pak. Jarak menuju rumah masih cukup jauh. Karena kelelahan, aku tertidur di dalam mobil.Ketika membuka mata, kendaraan telah berhenti tepat di depan rumah.
Di sana, Mak dan adikku telah berdiri menunggu. Saat itu, adikku masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Pemandangannya sangat sederhana: hanya seorang ibu dan anak kecil di depan rumah papan. Namun, bagiku, itulah salah satu pemandangan yang paling kurindukan selama berada jauh dari rumah.
Aku akhirnya pulang.Beberapa hari setelah kepulanganku, aku mengantar adik ke sekolah. Mak dan Pak harus berangkat pagi-pagi menuju kebun untuk mencari nafkah. Semula aku mengira hanya perlu mengantarnya sampai ke depan kelas, kemudian dapat langsung kembali ke rumah.
Ternyata aku salah.Ketika aku hendak meninggalkannya, adikku memandang dengan wajah sedih.
“Yuk, jangan pulang. Tunggu Ngan sampai pulang, ya,” pintanya.Kalimat itu begitu sederhana. Namun, hingga sekarang, aku masih mengingat tatapan dan nada suaranya.
Setiap hari, adikku melihat teman-temannya datang bersama ibu mereka. Sebagian dari mereka bahkan ditunggu hingga kegiatan sekolah selesai. Sementara itu, adikku biasanya harus berjalan sendiri dari rumah. Kadang-kadang, di tengah perjalanan, barulah ia bertemu dengan teman-temannya.
Saat melihat wajahnya, aku teringat bahwa dahulu aku juga pernah merasakan hal yang sama. Ada keinginan untuk memiliki seseorang yang mengantar, menunggu, dan menyambut ketika jam sekolah berakhir.
Akhirnya, hari itu aku memilih untuk tetap tinggal.Ketika bel masuk berbunyi, adikku berjalan menuju kelas. Aku duduk bersama ibu-ibu yang sedang menunggu anak mereka. Saat jam istirahat tiba, anak-anak keluar sambil membawa bekal dari rumah. Mereka duduk dan makan bersama.
Setelah selesai makan, adikku pergi mencuci tangan. Aku melihatnya memandang ibu-ibu yang sedang menemani anak mereka. Ia terdiam sejenak, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
Aku menghampirinya.“Kenapa? Ada yang sakit?” tanyaku.“Dak kok, Yuk,” jawabnya singkat.
Aku tidak bertanya lagi. Mungkin saat itu ia hanya ingin merasakan hal yang sama seperti teman-temannya, memiliki seseorang yang tetap menunggu ketika ia belajar dan menemukan wajah yang dikenalnya saat keluar dari kelas.
Hari itu, aku ingin menjadi orang tersebut.Setelah sekolah selesai, kami berjalan kaki berdua menuju rumah. Tempat tinggal kami sangat sederhana dan hanya berdinding papan. Namun, rumah itu selalu menjadi tempat yang paling kurindukan untuk pulang.Sesampainya di rumah, kami beristirahat sejenak.
Tidak lama kemudian, terdengar suara kecil memanggil.“Ayuk….”“Iya,” jawabku.“Yuk, Ngan mau main.”“Mainlah, tetapi jangan jauh-jauh dari rumah. Nanti susah Ayuk mencari.”
Ia langsung berlari keluar dengan riang.Beberapa saat kemudian, dari kejauhan tampak Mak dan Pak pulang dari kebun. Begitu melihat keduanya, adikku segera berlari dan berteriak, “Mak! Pak!”Entah mengapa, panggilan itu terasa begitu dalam bagiku. Seolah-olah di balik teriakan kecil tersebut tersimpan kerinduan seorang anak kepada orang tuanya.
Malam harinya, kami makan bersama di dapur sederhana. Tidak ada makanan mewah dan tidak tersedia meja makan besar. Namun, malam itu terasa begitu hangat. Ada tawa, cerita, dan percakapan sederhana yang selama tinggal di pondok sangat kurindukan.Setelah makan, Mak dan Pak bertanya tentang sekolahku.
“Bagaimana sekolah, Yuk?” tanya mereka.“Baiklah,” jawabku singkat.
Kemudian Mak menyampaikan pesan yang terus kuingat hingga sekarang.
“Belajar yang bagus. Kita ini tidak punya apa-apa. Kita keluarga sederhana. Setiap hari Mak dan Pak bekerja di kebun sawit orang untuk mendapatkan upah. Jadi, jangan buat Mak dan Pak kecewa.
”Aku hanya mampu menjawab, “Iya.”
Malam itu, kata-kata Mak terus terngiang di kepalaku. Aku mulai memikirkan perjalanan pendidikanku. Sejak sekolah dasar hingga duduk di bangku madrasah tsanawiyah, aku belum pernah masuk peringkat sepuluh besar.
Aku sering merasa bodoh. Aku menganggap diriku belum mampu memberikan kebanggaan kepada orang tua. Padahal, aku telah berusaha sesuai kemampuanku.
Namun, Mak dan Pak tidak pernah mengatakan bahwa aku telah gagal. Mereka juga tidak pernah memaksaku memperoleh peringkat tertentu. Pesan mereka selalu sederhana.
“Yang penting jangan sampai tinggal kelas, Yuk.”Kalimat tersebut mungkin terdengar biasa bagi orang lain. Namun, bagiku, kalimat itu adalah bentuk penerimaan. Mak dan Pak tidak menuntutku menjadi anak paling pintar. Mereka hanya ingin aku terus belajar dan tidak menyerah.
Sekarang aku mulai memahami bahwa setiap anak mempunyai kemampuan dan jalan pertumbuhannya sendiri. Adikku, sejak taman kanak-kanak hingga sekarang duduk di kelas V sekolah dasar, hampir selalu memperoleh peringkat lima besar. Aku tidak mempunyai pengalaman yang sama.
Meskipun demikian, Mak dan Pak tidak pernah membandingkan kami. Mereka tidak menjadikan prestasi adikku sebagai alasan untuk merendahkanku. Dari sikap itulah aku belajar bahwa nilai bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang.
Nilai memang penting, tetapi kegigihan dan keberanian untuk terus belajar juga tidak kalah berharga. Seorang anak yang belum pernah masuk sepuluh besar bukan berarti tidak memiliki masa depan. Bisa jadi, ia hanya membutuhkan waktu dan jalan yang berbeda untuk menemukan kemampuannya.
Kini, aku sedang menjalani proses untuk menjadi seorang sarjana. Insyaallah, suatu hari nanti aku akan kembali ke rumah dengan gelar di belakang namaku.
Aku tidak mengetahui apakah gelar itu mampu membalas seluruh perjuangan Mak dan Pak. Rasanya, pengorbanan mereka terlalu besar untuk dibayar hanya dengan sebuah gelar. Mereka telah memberikan tenaga, waktu, doa, dan bagian terbaik dalam hidupnya agar aku dapat memperoleh pendidikan.
Namun, setidaknya aku ingin pulang dan membuat mereka tersenyum. Aku ingin Mak dan Pak mengetahui bahwa anak yang dahulu merasa dirinya bodoh, anak yang tidak pernah masuk sepuluh besar, ternyata mampu bertahan dan melangkah sejauh ini.
Perjalanan hidup mengajarkanku bahwa rumah sederhana bukan berarti hanya menyimpan sedikit kebahagiaan. Terkadang, rumah berdinding papan justru menyimpan cinta yang paling luas.
Bagiku, pulang bukan sekadar kembali ke suatu tempat. Pulang adalah kembali kepada orang-orang yang selalu menunggu, mendoakan, dan memercayai kita, bahkan ketika kita sedang kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri.
Aku masih memiliki satu mimpi yang belum selesai. Suatu hari nanti, aku ingin pulang bukan hanya sebagai anak yang dirindukan, melainkan sebagai anak yang mampu membuat Mak dan Pak tersenyum lalu berkata, “Alhamdulillah, perjuangan kita tidak sia-sia.”